Minggu, 22 Januari 2012

Syair sakral serat centhini


Kerohanian yang tinggi sekaligus syahwat yang terlalu bejat dalam tembang itu yang menyebabkan suluk ini lama sekali tidak pernah diterjemahkan.

Pangeran Anom Amengku negara III, putera mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat di Jawa Tengah, menitahkan tiga pujangganya, Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura, untuk menyusun suatu cerita berbentuk tembang yang merangkum segala ilmu Jawa dan seni kehidupan yang menjiwai masyarakatnya.

Ia memberi mereka sepuluh ribu ringgit emas dan menyuruh masing-masing mengembara ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat sampai ke Mekah, untuk mengumpulkan semua kearifan sekaligus penyimpangannya dalam perangkap syahwat dan roh, dari berbagai kalangan, antara lain pertapa, dalang, juru kunci, penyamun, perempuan, petani, ulama, sampai kaum paria.

Tembang yang terdiri dari ribuan syair itu berjudul asli “Suluk Tambangraras” tetapi kemudian lebih populer dengan nama “Serat Centhini”.

Penulisannya dimulai 1809 Masehi. Bercerita tentang pengembaraan tokoh utamanya, Jayengresmi alias Amongraga. Ia adalah putera Sunan Giri, yang terkenal karena berani menolak membayar upeti kepada Sultan Agung di Mataram.

Serat Centhini ditulis untuk ditembangkan. Dalam seni pertunjukan sastra Jawa kuno, penyair dengan mengagumkan menyesuaikan irama, macapat dan gema kata-kata menjadi sangat indah. Di dalam bagian-bagian syair yang cabul, kotornya kata-kata itu terhalau oleh keanggunan tembangnya. Menurut Elizabeth D. Inandiak, salah seorang penerjemah Serat Centhini versi modern, perpaduan antara lumpur dan emas itulah yang menjadikan Serat Centhini begitu khas dan luar biasa.

Kerohanian yang tinggi dan syahwat yang terlalu bejat dalam tembang itu yang menyebabkan suluk ini lama sekali tidak pernah diterjemahkan. Bagi beberapa ahli Jawa, Serat Centhini adalah karya yang terlalu suci untuk diterjemahkan, sedangkan bagi sebagian lainnya, terlalu kotor.

Sejarawan Onghokham bahkan menganggap Serat Centhini identik dengan karya Francois Rabelais, seorang pujangga Perancis mantan rahib yang lahir tahun 1494. Rabelais memperkaya bahasa Perancis dengan penemuan kosakata dan tatabahasa yang menggugah. Demikian pula Serat Centhini adalah karya sastra Jawa dengan kosakata yang sangat kaya.

Sakral Sekaligus Tabu


Pangeran Anom Amengkunagara III, si pemrakarsa suluk ini, ia disingkirkan dari Kraton saat masih remaja karena dianggap mbalelo. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa hidupnya yang dianggap kelewatan akan menuntunnya pada ilmu kesempurnaan, dengan mengenal kebatilan di ambang jalan kebatinan. Itu sebabnya, ia memerintahkan tiga pujangga Kraton untuk menyusun suluk ini.

Di kemudian hari, ia diangkat menjadi Susuhunan Pakubuwono V. Ia meninggal karena penyakit rajasinga di tahun ketiga pemerintahannya. Pada 1850, Sri Susuhunan Pakubuwono VII menghadiahkan suluk ini kepada Ratu Belanda lengkap dari jilid satu sampai sembilan.

Serat Centhini terdiri dari 722 pupuh. Salah satu bagian yang istimewa dan kental dengan sufisme adalah pupuh yang menceritakan sepasang pengantin baru Amongraga dan Tambangraras melewatkan 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh. Nyaris seperti kisah Seribu Satu Malam, sepanjang 40 malam itu Tambangraras membungkuk dan diam. Namanya sendiri berarti tembang (tambang) yang merdu (raras). Pertanyaannya, mengapa suluk yang dinamai dirinya kemudian menjadi Serat Centhini? Centhini adalah nama abdi dalemnya yang setia dan penuh pengabdian menunggu di bawah ranjang pengantin majikannya.

Ia begitu melupakan dirinya sendiri dan begitu mengabdi pada para junjungannya, sehingga dia melebur menjadi suluk itu sendiri.Hingga saat ini, masih sedikit orang yang memahami suluk ini sebagai salah satu mahakarya kesusastraan tinggi Jawa. Meski demikian, beberapa orang telah berusaha menerjemahkan dan mengangkatnya ke dunia internasional.

Mantan Menteri Agama Prof. H. Moh. Rasjidi, mengangkat Serat Centhini sebagai disertasi doktornya di Universitas Sorbonne, Perancis, 1956. Kemudian ada H. Karkono Kamajaya, mantan wartawan era Bung Karno yang melatinkan suluk ini dengan kerja keras 20 tahun dan modal Rp 100 juta rupiah, yang 70 jutanya berasal dari kocek pribadi Presiden Soeharto kala itu. Karyanya baru diterbitkan tahun 1992 oleh Yayasan Centhini, Yogyakarta.

Elizabeth D। Inandiak adalah penerjemah Serat Centhini versi modern dengan menyusunnya bak sebuah novel filsafat। Salah satu proyeknya adalah terjemahan Serat Centhini ke dalam bahasa perancis.

sumber: berita indonesia





1 komentar: