Rabu, 15 Februari 2012

DUA SISI PIKIRAN : ILAHIAH DAN SETANIAH

Banyak orang bilang berkata bahwa mengumpulkan harta dunia untuk mencapai kebahagiaan. Ujung2nya mereka tambah sengsara. Belenggu kekuasaan dan harta ternyata menjadikan orang lebih menjauh dari rasa bahagia. Mereka merasakan kebahagiaan karena mencapai sesuatu. Sesuatu tersebut berupa benda materi pada umumnya. Karena kita memang masih membutuhkan materi untuk hidup di dunia ini. Padahal kita semua tahu dan sadar bahwa benda materi itu selalu berubah. Sebagai ilustrasi. Suatu saat kita menginginkan mobil, misalnya. Kita mengumpulkan uang dengan kerja keras. Kalau kita jujur dalam pencaharian uang masih baik. Yang paling celaka adalah jika untuk memperoleh keinginan kita, banyak orang lain jadi korban. Karena mata gelap ingin segera memperoleh uang banyak untuk membeli mobil, kita sering tega merampas hak orang lain. Berbagai alasan kita bisa kemukakan demi membenarkan perbuatan kita. Singkatnya kita bisa membeli mobil, baik dengan jalan jujur maupun jalan merampas hak orang lain. Satu pencapaian keinginan yang menjadikan kita bahagia. Jadi dari sini kita bisa menarik pelajaran bahwa kebahagiaan menurut versi dunia adalah jika perbandingan antara keinginan dan pencapaian bernilai satu. Kalau keinginan banyak dan pencapaian lebih kecil. Dengan kata lain hasil perbandingan antara keinginan dan pencapaian lebih besar dari satu, maka yang terjadi adalah tidak bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan versi dunia seharusnya nilai perbandingan kurang dari satu. Keinginan yang semakin kecil mempunyai kecenderungan memperbesar kebahagiaan. Jadi sesungguhnya untuk mencapai kebahagiaan bisa dilaksanakan jika keinginan diredusir sehingga mendekati angka nol. Ini kebahagiaan versi dunia.

Sekarang jika kita mau masuk lebih kedalam. Bukan hanya melihat permukaan. Mari kita renungkan dengan menjawab pertanyaan ini. Berapa lama kebahagiaan atau kesenangan dari perolehan mobil tersebut? 1 minggu, 2 minggu atau sebulan. Atau bahkan bisa setahun. Jawabannya : Tidak lama kawan. Paling banter 1 – 2 minggu. Berikutnya rasanya biasa. Naik mobil yang kita dapatkan mungkin dapat menjadikan hati kita senang. Bahkan bisa menjadikan kesombongan. Pamer bisa beli mobil. Memandang rendah orang lain. Kita menjadi begitu terikat pada mobil tersebut. Ketika mobil kita diserempet orang, kita marah. Dan bahkan ada yang tega sampai menganiaya si penyerempet. Ada suatu cerita menarik. Suatu kejadian di Puncak, seorang pengendara mobil dipukul oleh pengendara motor gede (moge). Gara-garanya sepele, si motor merasa dihalangi oleh mobil di depannya. Padahal situasi lalu lintas saat itu sedang macet. Si penendara moge merasa angkuh karena bisa naik motor yang harganya sama dengan mobil dan merasa lebih kaya. Pemukulan ini menyebabkan trauma bagi keluarga si pengendara mobil. Coba kita renungkan siapa sesungguhnya yang sakit? Jadi semakin banyak uang, semakin sakit jiwanya jika tidak juga menyadari bahwa kita bukan benda. Dalam hal ini si pengendara moge sudah mengidentifikasikan diri sebagai benda. Pelajaran yang bisa ditarik dari sini adalah karena kekayaan yang tidak abadi sudah menghilangkan jati diri kita. Karena uang atau kekuasaan, kita bisa mengidentifikasikan diri sebagai benda, kekuasaan ataupun uang. Kita bukan manusia lagi. Tapi kita benda yang seharusnya dikuasai oleh kita. Pada saat inilah kita menjadi atheis. Sifat ilahi dalam diri kita sudah lenyap. Digantikan sifat bendawi yang sifatnya sementara.

Apa sesungguhnya yang mendorong lenyapnya sifat keilahian dalam diri? Jawabannya mudah, sifat keserakahan dan keangkuhan. Apa yang mendorong munculnya sifat-sifat yang menjijikkan tersebut? Rasa ingin dipuji dan kelihatan baik. Bukankaha baik itu terjadi karena diri kita memang baik? Perbuatan baik karena ingin dapat pujian, bukan lagi dikatakan baik. Berbuat baiklah tanpa alasan. Karena memang manusia pada dasarnya baik. Jadi sesungguhnya perbuatan yang dikatakan baik menurut manusia, belum tentu baik dari segi keilahian. Karena perbuatan baik terjadi dengan spontan. Tanpa direncanakan. Kalau kita berbuat baik dengan direncanakan, pasti ada sesuatu dibalik itu. Mengaku atau tidak, pasti ada. Memangnya kita mau menipu siapa? Menipu Tuhan? Alangkah tololnya kita! Apa kita bisa menghindari pengawasan Tuhan. Begitu rendahkah jiwa kita? Seluas-luasnya alam semesta masih bisa diukur. Katakanlah sampai ukuran jaraknya sekian ribu tahun cahaya. Tapi kan masih bisa dihitung dengan angka. Coba kita bandingkan dengan luas hati manusia. Tiada seorangpun bisa mengukur. Karena memang tiada ukurannya. Demikian juga keberadaan Tuhan. Siapa yang bisa mengukur kebesaran Nya. Karena memang tiada terukur oleh akal manusia. Jadi tepatlah jika keberadaan Tuhan itu hanya dalam hati manusia. Sama-sama tidak terukur. Kalau keberadaan Tuhan dalam hati kita pun mencoba diingkari dengan menipu dengan jalan membenarkan perbuatan kita. Wah benar-benar kritis keadaan kejiwaan kita. Satu-satunya tempat bagi Tuhan dalam hati kita pun sudah kita singkirkan. Inilah yang disebut atheis. Meniadakan Tuhan dalam hati dan menggantikannya dengan keserakahan dan keangkuhan. Tepat yang dikatakan Rabiah Al Dawiyah, seorang sufi wanita. Dia berkata bahwa tidak lagi bisa membenci setan. Karena satu-satunya hati yang dimiliki telah diisi seutuhnya oleh keberadaan Tuhan. Hati mana lagi yang bisa digunakan untuk membenci setan??

Jika kita mau memahami diri maka kita megenal Tuhan. Memang benar ungkapan ini. Coba kita renungkan siapa sesungguhnya kita???? Dalam suatu kitab suci ada tertera suatu ayat, Tuhan lebih dekat dari urat leher mu. Mari kita perdalam. Kata ’mu’ di sini berarti aku. Mari kita bertanya : Siapa aku? Kalau aku menunjuk seluruh badan, itu bukan aku. Mungkin anda akan membantah. Tapi saya akan tanyakan, aku mengunakan kakiku berarti aku bukan kaki. Aku menggunakan tanganku. Berarti aku bukan tangan. Jadi sesungguhnya dalam hal ini aku bukanlah badan. Apakah aku pikiran. Tidak juga. Karena aku menggunakan pikiranku untuk berpikir. Berarti aku bukan pikiran. Semakin bingungkan????. Kembali ke ayat tadi :

Tuhanmu lebih dekat dari urat leher mu.

Yang mana ’aku’ saja belum terjawab. Bagaimana bisa tahu Tuhan dimana? Tidak mudahkan menjawab dimana Tuhan? Menurut hasil pengamatan, konsep keberadaan Tuhan yang selama ini diklaim oleh sekelompok orang yang mengaku punya Tuhan ternyata sudah makan korban banyak. Banyak para sufi sepert Mansur Al Halaj, Sarmad, Syeh Siti Jenar, Hamsyah Fansyuri dan beberapa sufi lainnya dibunuh. Demi memuaskan konsep ketuhanan sekelompok orang yang mengaku memiliki Tuhan. Bahkan pembela Tuhan. Dikatakan oleh mereka bahwa perbuatan yang dilakukan demi membela agama Tuhan. Wah benar-benar konsep yang dibela. Semua terjadi karena ketidak tahuan. Ini yang disebut hijab. Mereka berkiblat pada keyakinan segelintir orang yang juga belum memahami makna ketuhanan. Orang buta dipercaya oleh sekelompok orang. Ya, pastilah sekelompok orang ini juga kesasar alias tersesat. Tapi lucunya kelompok ini bisa berkata dengan lantang bahwa yang tidak sefaham disebut oleh mereka sesat. Wah !! runyam bukan. Yang melek dikatakan sesat oleh yang buta karena ketidak tahuannya. Jika sampai kondisi ini, mereka yang memiliki pelita hati harus mengalah. Orang Semarang bilang : ’Sing waras ngalah’ artinya : Yang sehat pikirannya lebih baik mengalah. Situasi ini sama dengan jika kita berjalan kemudian berpapasan dengan orang buta. Tentu kita yang harus minggir. Kita yang tidak buta matanya masih bisa cari jalan lain.
Penemuan jawaban untuk cari ayat Tuhanmu lebih dekat dari urat leher mu saja sudah menyita waktu selama hidup kita. Dalam hali ini sejalan dengan ayat : Jika kau mengenali dirimu, maka kau kenal Tuhan mu. Kenal diri ’mu’ kenal Tuhan. Berarti …….. silahkan mengartikan sendiri. Nanti kalau saya menulis orang bilang : Ih atheis!!… Karena kebodohan kita sendirilah yang menafikan keberadaan Tuhan. Tuhan ada dimana-mana. Tiada suatu tempatpun luput dari keberadaan Tuhan. Bila kita menyadari ini, maka dunia akan tenteram dan damai.

Ah!! ternyata konsep keberadaan Tuhan lah yang membuat dunia tidak damai. Konsep berasal dari akal serta pikiran manusia. Ini berarti pikiran kita sendiri yang menjadikan kita terjebak dalam ketidak tahuan. Tapi lucunya melalui pikiran juga kita bisa memahami kebenaran. Wah kalau begini kelihatannya pikiran ini mempunyai dua permukaan. Bagaikan mata uang. Ke dua sisinya harus ada. Jika salah salah satu sisi tidak ada, tidak valid. Demikian juga mata uang. Salah satu sisinya rusak, uang ini tidak lagi laku dibelanjakan. Untuk menemukan kebenaran sejati atau mencari jati diri, gunakanlah sisi pikiran yang bersifat keilahian. Sisi gelap pikiran yang lain yang mengajak kita menjauhi kebenaran adalah yang kita kenal dengan setan. Jadi pikiran manusia terdapat dua sisi, bagaikan mata uang. Sisi ke-ilahi-an dan sisi ke-setan-an. Tergantung kita mau menggunakan sisi yang mana. Pilihan ada di tangan kita. Bukan di tangan Tuhan. Hanya manusia yang ingin mencari sandaran selalu berkata : Itu kehendak Tuhan. Alangkah naifnya. Karena ke tidak percayaan diri, maka kita selalu mencari kambing hitam. Celakanya lagi yang dijadikan kambing hitam adalah Tuhan. Semua dibebankan pada Tuhan. Tuhan tidak adil, Tuhan memberikan cobaan lah dan sebagainya yang dasarnya membebankan kesalahan kepada Tuhan. Edan betul manusia itu!!! Dalam keseharian kita sering kali melakukan kesalahan ini. Tepat sekali yang dikatakan Vivekananda : dosa paling besar dari manusia adalah ketika tidak lagi memiliki percaya diri. Lha, pada diri/badan yang sudah diciptakan oleh Tuhan saja tidak percaya, apalagi pada Sang Penciptanya???? Masuk akal juga pendapat dia.

Jadi sisi pikiran ke-ilahi-an dan sisi pikiran ke-seta-an. Sisi ke-setan-an adalah ketika kita selalu mencari kebahagiaan semu. Karena ketidak tahuan. Bagi sisi ke-ilahian-an mencari kebahagiaan menjadi nomor sekian. Karena sisi ini sudah tah bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu tidak dimana-mana. Sudah ada dari sononya. Apa yang menyebabkan kebahagiaan tersebut tidak kelihatan. Ya pikiran yang membawahi bidang ke-setan-an ini yang menutupi. Semakin jelas nampaknya sekarang. Departemen yang mengurusi pikiran bidang ke-ilahi-an selama ini tertutup oleh bidang pikiran ke-setan-an. Menyadari kesejatian diri adalah kebahagiaan sejati. Jadi kebahagiaan ini sesungguhya adalah jati diri manusia. Hanya sayangnya selama ini tertutup oleh awan ke tidak tahuan atau sisi pikiran bidang ke-setan-an. Celakanya sisi pikiran manusia bidang ke-setan-an lebih dominan. Buktinya dunia sangat berkembang saat ini. Dunia ini akan punah jika dan jika MANUSIA BAIK SEMUA atau MANUSIA JAHAT SEMUA. Jika masih ke dua nya masih eksis secara berbarengan, dunia tidak bakalan kiamat. Karena hukum Yin-Yang masih ada. Dan berita baiknya dunia ini akan tetap hidup karena di dukung adanya energi Yin-Yang. Hukum energi ini tidak bakalan hilang selamanya. Pelampauan hukum Yin -Yang adalah Tuhan. Dia adalah Maha Tidak Terjelaskan. Jika Dia dapat dijelaskan, wah sudah hilang nilai ketuhanan Nya. Dia bukan materi, Dia bukan energi. Tapi Dia ada di mana-mana. Bukti keberadaan Nya adalah kita semua yang saat ini eksis. Dia bagaikan layar dari suatu pertunjukkan film. Tanpa adanya layar, film tidak dapat diputar dan ditonton. Film kehidupan berlangsung di atas layar atau Tuhan. Siapa yang bisa meniadakan Tuhan. Pikiran manusia yang masih di dominasi bagian pikiran bidang ke-setan-an. Untuk lebih singkatnya pikiran bidang ke-setan-an ini akan saya sebut ego. Apapun filmnya layar tidak akan ternoda. (Atma Bodha, oleh Anand Krishna).

Ternyata Tuhan hanya berperan mengadakan dan tidak berperan menggerakkan. Peran pergerakan dalam isi dunia di dominasi oleh bidang ke-setan-an. Semua benda yang ada di dunia muncul karena keinginan dan untuk memenuhi keinginan manusia. Tuhan benar-benar pencipta serta bertindak sebagai katalisator. Tanpa katalisator sesuatu reaksi tidak bakal terjadi. Akibat dari reaksi tidak akan berpengaruh pada katalisator. Demikian juga peran Tuhan. Setelah barang berwujud, Tuhan tidak lagi dapat dipengaruhi dan berperan. Ke dua sisi pikiran manusia yang berperan. Kalau dipergunakan untuk kepentingan sendiri, peran pikiran bidang ke-setan-an dominan. Kalau digunakan untuk kepentingan umum, maka peran otak bidang ke-ilahi-an dominan. Kembali harus ita ingat ’aku’ bukan pikiran. Jadi akulah pengendali pikiran. Sang Aku adalah pengguna pikiran. Hanya Dia, Sang Aku yang bisa menguasai pikiran. Karena Dia adalah pengguna/pencipta. Baik sisi ilahi maupun sisi setan. Sayangnya Dia tidak bakalan memihak atau memilah.bagi Dia ke duanya sama saja. Ciptaan Nya. Jadi nampaknya keinginan muncul dari dari sifat ketidak tahuan atau bidang pikiran ke-setan-an. Bahkan keinginan berbuat baik pun muncul dari alam ketidak tahuan atau sisi bidang ke-setan-an. Karena keinginan mewakili ego. Selama masih ada kata aku masih mengandung sifat ketidak tahuan. Karena keinginan merupakan sifat yang sangat manusiawi. Tidak memandang keinginan baik atau buruk. Tetap namanya keinginan. Ternyata Tuhan itu seperti kantongnya kucing dora emon ya!! Dia akan menyediakan apa yang diinginkan manusia/ego. Tidak pernah menolak. Hanya tinggal tunggu waktu saja. Cepat atau singkat sangat relatif. Sebagaimana yang diutarakan Albert Einstain. Waktu adalah relativitas. Sementara Tuhan tidak bergantung waktu. Tuhan adalah kekinian. Tuhan adalah penguasa waktu. Dia tetap ada dimana dan kapan saja. Dalam pemahaman Hindu, Tuhan disebut Brahman. Dia yang terus berkembang.

Dengan pemahaman bahwa Tuhan tidak akan pernah menolak permintaan kita, jangan sia-sia kan nilai permintaan. Untuk memahami hal ini tentu bidang pikiran dengan sisi ke-ilahi-an yang harus dipergunakan. Siapa yang akan mempergunakan. Ya kita manusia. Wah, tambah membingungkan nampaknya. Tadi katanya Tuhan yang menguasai pikiran, sekarang kok jadi manusia. Ingatlah temans, tadi kan sudah diuraikan di atas. Tuhan itu tidak terukur. Hanya bisa bertempat yang juga tidak bisa diukur. Hati manusia. Jadi hati manusia yang sudah di singgasana-i oleh Tuhan yang berperan. Kalau hati manusia masih berbicara akan hal-hal yang terukur berarti masih dikuasai oleh pikiran bidang ke-setan-an. Waspadalah!!!!!

Saya sedang berpikir tentang pikiran yang bersifat ilahi dan setan. Fungsi otak kanan mempunyai kemiripan fungsi pemikiran ilahi. Otak kanan berkaitan dengan seni termasuk tari serta nyanyian dan rasa keindahan. Cara kerjanya juga responsif serta muncul secara tiba-tiba tanpa diinginkan atau direncanakan. Sifatnya juga universal. Tanpa berhitung untung-rugi. Sebaliknya cara kerja otak kiri selalu memikirkan untung-rugi. Matematis sekali. Demikian juga fungsi pikiran bidang ke-setan-an selalu berhitung untung-rugi. Sangat sempit. Kebetulan suatu malam saya nonton acara berita di suatu stasiun TV. Cuma tinggal buntutnya sih. Tapi cukup menohok pikiran saya.

Tentang UU Anti Pornografi yang memasukkan definisi porno termasuk seni kebudayaan tradisional. Lucu bukan. Betapa sempitnya si pengusul. Seni budaya nusantara sudah ada sejak lama dan jauh mendahului undang-undang tersebut. Lahirnya pemikiran undang-undang ini sangat terkait erat dengan otak kiri. Sisi pemikiran setoniah. Siapa yang bisa menilai sesuatu porno atau tidak? Tentu pikiran yang juga penuh dengan pornografi. Pemikiran yang selalu berhitung untung-rugi. Tidak lagi melihat suatu tarian dari sisi keindahan. Tapi dari sisi goyangannya. Pikiran setannya berpikir; Wah, seandainya saya yang digoyang. Enak tenan. Tapi kok tidak bisa menikmati. Karena takut peraturan agama. Nanti masuk neraka yang penuh api dan menderita. Agar supaya pikiran tidak tergoda, maka dia buat peraturan. Jadi prinsipnya, dia sendiri yang takut tergoda. Memang lihai ini pikiran bidang setoniah. Biar kelihatan alim dan suci, buat peraturan yang seakan-akan bisa mencegah orang berbuat dosa. Padahal sesungguhnya iman dia sendiri yang lemah. Selalu menyalahkan setan sebagai penggoda iman. Dia tidak sadar bahwa bagian kiri otaknya yang sesungguhnya masih berperan dominan. Dia tidak mengerti fungsi peran pemikiran. Setoniah atau ilahiah. Yang lebih menyedihkan lagi mereka ini selalu menggunakan dalih agama. Membela agama Tuhan. Ujung-ujungnya mengharapkan pujian. Suatu pemahaman ke agamaan yang sempit. Satu ciri mereka yang masih di dominasi oleh otak kiri adalah senang mencari kesalahan orang lain. Menganggap perbuatan sendiri yang paling benar. Kelicikan mereka berkedok intelektualitas. Dalih kitab suci. Tapi yang kira-kira memberi keuntungan diri sendiri.

Intelek berbeda dengan intelegensia. Intelek berkaitan dengan cara kerja otak kiri. Bidang setoniah. Matematis banget pokoknya. Kelicikan cari kata-kata pembela diri demi mencari pembenaran. Dan yang utama adalah untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok maupun golongannya. Salah satu contoh yang lucu. Dalam suatu perdebatan antara golongan yang pro mati pada hukum Islam dan kelompok yang punya wawasan lebih luas, walaupun Islam juga. Bagi yang pro mati Islam berkata bahwa HAM dan hukum yang ada di Indonesia adalah buatan orang kafir. Tapi giliran teman dari yang pro mati Islam ditangkap, mereka giliran teriak bahwa penangkapan itu melanggar HAM dan hukum. Lucu khan!!! Kelicikan ini yang selalu digunakan. Inilah bukti pikiran bidang setoniah masih dominan. Walah, lagian sadar atau tidak bahwa saat ini kita semua masih hidup di neraka. Tanpa kecuali. Karena Tuhan ada di sini, di neraka. Keberadaan Tuhan untuk memberikan petunjuk bagi manusia yang berada di tempat kegelapan atau neraka. Keberadaan Tuhan di surga tidak lagi diperlukan. Mau memberikan petunjuk kepada siapa. Manusia yang sudah mencapai surga adalah manusia yang sudah tahu dan merasakan ketuhanan. Untuk apa pula kehadiran Tuhan di sana??? Wah kalau begitu para teroris keliru tujuannya kala mau ketemu Tuhan di surga?? Pasti tidak bakalan ketemu Tuhan. Betapa kasihannya mereka itu. Sudah di dunia hidup sengsara dan mengharapkan mati ketemu Tuhan di surga. Eh , malah tidak ketemu Tuhan lagi. Celakanya hadiah dari Tuhan pasti tidak dapat. Tidak ketemu yg punya surga, siapa yang mau kasih madu dan bidadari bertelanjang dada.

Intelegensia sebaliknya. Selalu bersifat universal. Intelegensia berorientasi pada kepentingan umum. Misalnya keindahan dan bau yang enak atau wangi. Melihat keindahan bunga yang sedang mekar, pasti pada umumnya orang akan memuji keindahannya. Demikianlah ciri pola pikir yang sudah mengarah ke intelegensia. Semakin berkembang pola pemikiran berintelegensia tinggi semakin tinggi sifat ilahiah dalam diri manusia. Tentu ini lebih mengarah ke perkembangan otak kanan. Responsif dan lebih berpikiran demi kepentingan umum. Man of God pasti berintelegensia tinggi. Mereka lebih memikirkan kelestarian lingkungan dan dan memiliki rasa kasih pada semua mahkluk di bumi. Tidak memikirkan diri sendiri, kelompok atau golongan sendiri. Pada umumnya mereka yang berintelegensia tingi, cara berpikir intelektualnya sudah mengalami penyusutan. Perkembangan otak kanan membesar, otak kiri sudah jarang digunakan. Dengan demikian sifat ilahiah dalam dirinya lebih dominan ketimbang pola pikir untuk kepentingan diri. Lihat saja para sufi. Mereka mabuk anggur ilahi. Rabia Al Dawiyah menghasilkan puisi keilahian dalam jumlah banyak. Kabir, konon kabarnya menyanyikan lagu ilahi sebanyak ribuan. Yang tercatat sekarang saja ada 500 an lagu. Dengan puisi-puisi nan indah. Mereka sudah memiliki pelita sendiri. Mereka sudah mengalami Tuhan. Mereka sudah mencapai kebahagiaan abadi. Keterikatan terhadap dunia sudah memudar. Keinginannya sudah semakin mengerucut. Persatuan dengan Sang Pencipta. Itulah keinginan tunggal mereka.

Pertanyaan lain muncul lagi. Apakah setelah mencapai persatuan dengan Ilahi kebahagiaan mereka juga abadi? Ada sebagian manusia ilahi yang merasa tidak nyaman dengan kebahgiaan yang mereka peroleh. Karena sesunguhnya mereka akan berpikir lebih jauh untuk berbagi mengenai apa yang telah mereka peroleh. Avalokitesvara, misalnya. Manusia suci ini konon tidak mau mencapai surga selama masih ada manusia yang kesadaranya di bawah. Dia turun untuk berbagi kesadaran dia yakin sekali bahwa semua manusia pasti akan berevolusi jiwanya menuju keilahian. Hanya ada yang cepat ada yang lambat. Tergantung kemauannya sendiri. Kelompok ini akan turun ke dunia untuk berbagi rasa kebahagiaan yang sudah mereka peroleh. Mereka akan berbagi know how nya. Membebaskah keterikatan duniawi. Bebahagialah manusia yang bertemu dengan para suci yang telah mencapai ketinggian dan dalam perjalanan turun untuk berbagi. Sambutlah mereka. Bukalah pintu hatimu. Tanpa kau membuka pintu hatimu, kau tidak akan mampu meraih dan memeluknya. Caranya bagaimana. Hilangkan EGO. Jati diri duniawi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar