Kamis, 02 Februari 2012

misteri sabdopalon I

Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya
mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon.
Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya
tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan
secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual
dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik
terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.

Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ?
Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual
Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat
ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait
terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut,
yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara
Indra sbb :

164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake
jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko
proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda;
landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan
Noyogenggong.

(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua
kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah
perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula
weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi
Sabdopalon dan Noyogenggong)

173.
...nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula
padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah
kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku
momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang;
genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya
iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti;
andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat
bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah
rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja;
itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi
termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh
kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman
penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa
hormat yang tinggi)

Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan
kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh
Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul
sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki.

Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan
membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.

Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan
penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan
Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga
mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan
untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina
untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah
menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan
Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo
Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya,
maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita
cermati ucapan-ucapan berikut ini :

Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban,
rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng
bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan
ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi
paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik
Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi
Mahmeru punika sadaya kula, …”
(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan
jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya
asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol,
saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah
yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak
percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu
saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah
saya, …”)

Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi
dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam.
Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :
“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging
kondhang; …”
(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi
termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa
dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang
dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar” atau yang tersamar...

“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang
ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi
jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang.
…..”
(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya
kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ,
hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya
samar. …..”)

Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah
yang bernama Semar.

Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami
tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa
Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan
Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu
menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta
berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama,
keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus
dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi
Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya.


Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa
tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit
saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan
Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh
lajêr Jawi, …..
….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong
lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga
tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari
leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang
Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-
raja Jawa, …..
….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam
mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di
bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari
berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478.

Saat ini di tahun 2008, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.533
tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran
kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat
leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada
umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”.

Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan
Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”,
artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud
berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia
tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau
Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal
adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.


Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami
bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya
merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam
ungkapannya dikatakan :

“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda
têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat,
Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging
kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda
artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya
pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba
itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)


Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang
selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah
berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar
ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa.

Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti
luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan
panjang berikutnya nanti. Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut
wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan
kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan
rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah).

Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk
melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”.
Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada
“tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama,
diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan
lain-lain.


Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara
Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum
berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang
mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya.
Berikut ungkapan-ungkapan itu :

“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami
Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical,
rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang
Jawi ingkang mangêrti.”
(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam,
meninggalkan agama Budha (maksudnya kawruh budi pekerti, keturunan
Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa)
tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka
ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang
Jawa (Jawi) yang mengerti.”

“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa
ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon,
wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”
(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang
Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa,
yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah
kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar
salahnya.”)

Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya
bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa
(tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan
bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai
nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”)
yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan
kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan
akibat-akibatnya dalam waktu berjalan.

Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon
tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu
pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita).
Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan
Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :


“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong,
nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak
waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk
nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr
Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene
samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”
(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong,
namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung
kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan
menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon
di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih
berkelana di tanah seberang.”)

Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu
Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah
seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk
mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita
kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.

Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam
naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :

3.
Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, ngrasuka agama
Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang
anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus
pinasthi sayekti kula pisahan.
(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu,
sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini
yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris
kita harus berpisah.)

4.
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur
petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang
agami, gama Budi kula sebar tanah Jawa.
(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang
Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti
agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah
Jawa.)


5.
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu
kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur
atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi
yen wus njeblug mili lahar.
(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan
jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya
hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya
ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)


6.
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika
medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad
satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging
kalamunta kaowahan.
(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama (Kawruh
Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang
Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)

7.
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan
tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng
tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon
Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di
tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya
menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

8.
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring
gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing
sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti
ana kang akarya.
(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah
kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada
ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada
yang membuatnya.)

Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon
menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya.
Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa
Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali
ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali
sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun.
Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di
bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu.
Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke
arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-
bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia
pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar
Ngejawantah”.

Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung
Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat
statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian
malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada
hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan
dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu).
Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua
satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam
Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila
angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 =
17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17
merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam.
17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan
“langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan
angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini
dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan
Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa
menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon)
untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah
sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di
sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi
(menitis).

SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG* ?
(*dari http://nurahmad.wordpress.com/)

Setelah membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur
Nusantara yang indah, maka telah sampai saatnya mengulas sesuai dengan
pemahaman tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu.
Menurut Bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, didapatkan jawaban : “Sabdo
Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual
dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara
spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang
Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang
akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”

Dari referensi yang didapat, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang
Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang
Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum
“Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta
Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi
nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga
dikenal sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan
sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang
Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas
pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-
ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-
masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu
dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan
Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”

Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-
benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak
melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan
kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang
ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit
(salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya
beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di
bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau
Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan
dan kemudian ke Blambangan.

Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun
caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem
Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di
Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi
dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang
Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau
mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong
sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta
kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua
bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para
bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-
prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun.
Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-
kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga
mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam
bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim
membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu,
Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa
Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti
Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak
Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib
(moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang
Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).

Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang
Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan 10 (sepuluh)
pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya,
kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin
yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun
telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang
melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh
anak baik seorang.

Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan,
sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru
prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka
pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut
guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.

Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong
kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara
katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan
ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-
hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan
menginjak kotoran.

Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe
buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin
ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku
yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat,
memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.

Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose
melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya
mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. (bait 11)
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-
kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal
didengarkan.

Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua
agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de
mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. (bait 12)
Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya
merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara,
jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.

Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang,
wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah
laku, katanjung bena nahanang.(bait 13)
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu
mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah
melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.

Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang
awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi
manandur, joh pare twara mupuang. (bait 14)
Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan
henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara
dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan
berhasil.

Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan,
masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas
ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. (bait 15)
Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak
berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti
yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.

Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire
kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija
aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang
jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai
masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya
anakku.

Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan
penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan :
“Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak
Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan
Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah
Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha / Mpu
Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh / Tuan Semeru.
Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau
dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah
datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini.
Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho,
ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan
kebenarannya.
Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak
perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada
“seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio
seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga
memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh
Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang
sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang
Nirartha.

“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon =
Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh
para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan
rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO
PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio
Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong
(SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka
Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah
“SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan
“SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa
dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan
“membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan
rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu.
Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”

Dari apa yang telah diungkapkan sejauh ini, mudah-mudahan membawa
banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari
wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi
harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan
datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho.


Sabdopalon merupakan metafora dan sekaligus kasunyatan di wilayah
khasful hijab. Bertenggernya bangsa besar Nusantara yang dulu orang
Arab lama menyebut sebagai Jaziratul Jawi, Yunani jauh-jauh hari
menyebut dengan Zabaja, Nabi Sulaiman AS menyebut istrinya yang dari
Jawa dengan Ratu Seba. Nuh yang membangun bahtera sebab bangsa makmur
dan majunya mengalami dekadensi moral besar-besaran sehingga lelehan
es membuat luapan air laut melebur dan menenggelamkan bangsanya, Plato
kemudian hari bilang itu Atlantis. Bangsa yang sangat tidak terima
bila ditunjuk atau bahkan disentuh dahinya sebab itu taruhannya nyawa,
bangsa yang rela mati demi membela harkat dan martabat sehingga bangsa
Portugis kehilangan cara menaklukan. Bangsa yang tidak pernah masuk
dalam daftar perbudakan bangsa Arab, sebab orang Arab akan
mengembalikan budaknya yang diketahui sebagai orang Jawa, bangsa yang
menjadi pioneer dunia bahari dengan teknolohi bahteranya yang hebat
sehingga sudah menjelajah hingga ke India, Arab, Madagskar, Tahiti,
Fiji, Hawai, dan Peru. Bangsa yang tidak pernah bisa dikalahkan dengan
peperangan, bangsa yang sangat sportif, hingga akhirnya dikalahkan
dengan tipu daya oleh para pedagang. Bangsa yang selanjutnya menjadi
tidak percaya diri sama sekali, malah belajar kelicikan, keculasan, dll.

Sama sekali lupa Bangsa Jawa yang sudah sangat tua, dan pernah sangat
berkarisma dimata bangsa lain. Setiap kali bertengger di dahan
kekuasaan di pohon peradaban mudah dilihat dengan penuh takzim oleh
bangsa-bangsa lain, karena besar dan anggunnya. Bangsa besar ini bagai
Garuda yang terbangnya sangat tenang dan berkarisma di Angkasa.

Brawijaya V tidak kehilangan pegangan spritualnya, beliau ini
kehilangan rakyatnya. Beliau merupakan salah satu alasan bahwa Islam
berkembang pesat di Jawa, sebab beliau mengijinkan pembangunan ajaran
Islam hingga sarana pendidikan Islam di seputaran pesisir Jawa. Bahkan
beliau beristrikan seorang putri Campa yang beragama Islam. Sedangkan
Jimbun yang kemdian dikenal sebagai Raden Patah adalah anaknya yang
terlahir dari seorang putri peersembahan dari kekaisaran China. Bangsa
Jawa sudah menjadi bangsa yang mayor dan sangat legendaris di kalangan
peradaban manusia. Jawa di sini bukanlah Jawa yang satu pulau di
wilayah Indonesia, namun juga mencakup Sumatra, Malaka, Kalimantan,
Philipina, Sulawesi, dll. Itulah yang disebut Jaziratul Jawi, sehingga
aksara Arab pegon oleh orang Arab disebut sebagai Arab Jawi meskipun
faktanya lebih sering digunakan oleh bangsa Melayu. Masyarakat
beranggapan bahwa semua hal dari Asia adalah Jawa. Brawijaya V
merupakan Raja yang adil dan penuh kasih sayang, dia sangat terpukul
ketika mendapatkan kenyataan serangan dari anaknya sendiri. Jiwa
ksatrianya sudah mendidih dan hendak mengerahkan pasukan dari Bali,
namun berhasil diredam oleh Sunan Kalijaga yang sangat mahir
berdiplomasi dengan tata kesantunan luar biasa.

Akhirnya Brawijaya V beralih menjadi Islam. Tapi sabdopalon menganggap
bahwa masuknya momongannya ke dalam agama Islam adalah merupakan sikap
kekalahan politik yang gegabah. Bagi sabdo palon noyo genggong, sikap
seorang manusia yang menjalankan wilayah keamanan sudah cukup baik
meskipun dia adalah Hindu, Budha, atau yang lain. Sebab menjalankan
ranah keamanan sosial sudah menjadi Mukmin yang berarti juga berperan
mengamankan. Sedangkan Islam atau Muslim adalah kelengkapan
selanjutnya untuk menyempurnakan manusianya. Sebagai manusia Brawijaya
dianggap sudah bagus. Jadi bila dia masuk Islam dengan frame berpikir
yang tiba-tiba baru, Brawijaya menjadi kehilangan banyak hal yang
bersifat esensi.

Sabdo palon sangat menyadari, bila Islam dijalankan dengan benar
berlandaskan Budi dan Darma maka akan menjadi manusia Paripurna, jadi
untuk masuk Islam tidak bisa grusah-grusuh atau gegabah. Dengan sikap
gegabah maka Islam hanya akan diterjemahkan menjadi wadag (hanya tau
kulitnya saja) dan akhirnya manusia sudah akan merasa aman dengan
embel-embel ke-Islam-annya. Islam yang seperti ini hanya Islam wadag
(istilahnya Islam KTP) , yang permisif dan kompromis terhadap
kemudaratan, dan akan menghilangkan Budi, menyingkirkan Darma.

Bertolak dari situ, akhirnya Sabdopalon Noyo Genggong merasa
dimundurkan ke peradaban bayi, bayangan kerusakan sudah terpampang di
depan mata. Ukuran untuk kembali menjadi manusia yang berbudi dan
mempunyai darma (sumbangsih kemaslahatan) adalah 500 tahun kemudian
(takaran maksimal untuk menjadi bangsa yang kembali dewasa). 500 tahun
mulai pada peristiwa itu adalah proses pengenalan Islam secara
komprehensif, dan dibutuhkan pengorbanan waktu yang panjang, sebab
ajaran ini harus juga menjadi esensi bukan menjadi wadag atau sekedar
formalitas.

Orang Jawa dalam hal spritulaitas ini memiliki tradisi sejarah sangat
panjang akan keseriusannya terhadap ajaran luhur dan kemuliaan.
Sabdopalon tidak menolak Islam, Sabdopalon mencoba realistis, apakah
orang Jawa sudah siap dengan Islam? karena Islam adalah ajaran yang
sempurna. Sesempurna apa ketangguhan orang Jawa terukur dari 500 tahun
peristiwa sejarah selanjutnya. Cukup 500 tahun! sebab bila tidak mampu
menggunakan akalnya dalam memahami keterpurukannya maka bencana lebih
besar tidak lagi mau menunggu.
Bencana itu akan mereduksi peradaban hingga kalau perlu hilang dengan
geliat alam dan fenomena multikompleks, bila hanya manusianya hanya
manusia sia-sia. Namun bila segera beranjak bangkit maka memang segala
kesalahan yang mengakibatkan kerusakan menjadi pelajaran guna menata
pembangunan manusia, bukan hanya Jawa, bukan hanya Nusantara,
melainkan Dunia.

Jawa-lah yang mampu dengan sangat indah memasukkan Islam menjadi
sektor budaya, dan Jawa juga yang akan memimpin kembali tampuk
peradaban dunia bila bisa menjalankan kembali Budi dan Darma. Jangan
merasa aman menjadi Islam bila hanya beragama Islam, sebab
ketidakseriusan terhadap Islam akan menjadi bumerang yang merusak
sendi dan pilar keseimbangan. Jangan menjadi Islam yang tidak mampu
membuat aman di wilayah sosial, jangan menjadi Islam kalau
perbuatannya malahan menghina Islam dengan kepentingan duniawi. Pasti
Gusti Allah tidak akan Ridho. Segera temukan keridhoan Allah untuk
bangsa besar ini. Waktu sudah tidak punya toleransi lagi, atau akan
ketinggalan dan terkena bendu dari mekanisme keseimbangan alam.

Semar dalam gambar kaligrafi jawa bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan
Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam
keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam
menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.

Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing
kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya :
“dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat
mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju
kesempurnaan hidup”.

Semar bertubuh tambun: melukiskan keluasan hatinya.

Ati segoro, begitu kata orang Jawa: hati bagai samudera. Makin luas
hatinya berarti makin halus pula rasa-nya. Dalam literatur Jawa, rasa
adalah inti terdalam manusia, kebenaran tertinggi. Makin halus
rasanya, berarti makin dekat orang itu pada inti kebenaran, makin
tinggi tingkat spiritual-nya. Dan makin halus rasa seseorang, dia akan
menjadi makin momot, makin luas ruang hatinya, sehingga bagai samudera
yang bisa menampung ribuan sungai yang mengalir kepadanya tanpa
menjadi penuh maupun kotor.

Sebaliknya makin kasar rasa seseorang, makin rendah tingkat spiritual-
nya, makin kaku sikapnya, dan makin sulit menerima pandangan yang
berbeda, tidak bisa hidup tenteram dengan kelompok lain, mau menang
sendiri… dan ugal-ugalan.

Lebih celaka lagi, dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan!
(sumber: diambil dari beberapa tulisan di berbagai milis dan pesan
dari Ki Wiku Sidiq Permana)

1 komentar:

  1. Saya mohon ijin kepada pengasuh web untuk memuat tulisan anda sebagai bahan acuan tulisan saya di internet. Terima kasih.
    Javanese2000.

    BalasHapus