Rabu, 08 Februari 2012

Memahami Arti Hidup dari Sosok Punakawan (2)

petruk

Punaatau pana” dalam terminologi Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat, mengerti, cerdik dalam mencermati atau mengamati makna hakekat di balik kejadian-peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan manusia. Sedangkan kawan berarti pula pamong atau teman. Jadi punakawan mempunyai makna yang menggambarkan seseorang yang menjadi teman, yang mempunyai kemampuan mencermati, menganalisa dan mencerna segala fenomena dan kejadian alam serta peristiwa dalam kehidupan manusia.

_______________________________

Punakawan dapat pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing yang memiliki kecerdasan fikir, ketajaman batin, kecerdikan akal-budi, wawasannya luas, sikapnya bijaksana dan arif dalam segala ilmu pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara perkataan dan tindakannya sama, tidaklah bertentangan.

Khasanah budaya Jawa menyebutnya sebagai “tanggap ing sasmita, lan limpat antelope ing grahita”. Dalam istilah pewayangan terdapat makna sinonim dengan apa yang disebut wulucumbu yakni rambut yang tumbuh pada jempol kaki. Keseluruhan gambaran karakter pribadi Ki Lurah Semar tersebut berguna dalam upaya melestarikan alam semesta, dan menciptakan kemakmuran serta kesejahteraan di bumi pertiwi.

Dalam cerita pewayangan Jawa, punakawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing memiliki peranan yang sama sebagai penasehat sacred dan politik, namun masing-masing mengasuh tokoh yang karakternya saling kontradiksi.

Kelompok Ki Lurah Semar Badranaya

Terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong (Sunda: Cepot). Mereka menggambarkan kelompok punakawan yang jujur, sederhana, tulus, berbuat sesuatu tanpa pamrih, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat luas, cerdik, dan mata batinnya sangat tajam. Ki Lurah Semar, khususnya, memiliki hati yang “nyegoro” atau seluas samudra serta kewaskitaan dan kapramanan-nya sedalam samudra. Hanya satria sejati yang akan menjadi asuhan Ki Lurah Semar. Semar hakekatnya sebagai manusia setengah dewa, yang bertugas mengemban/momong maternity kesatria sejati.

Ki Lurah Semar disebut pula Begawan Ismaya atau Hyang Ismaya, karena eksistensinya yang teramat misterius sebagai putra Sang Hyang Tunggal umpama dewa mangejawantah. Sedangkan julukan Ismaya artinya tidak wujud secara wadag/fisik, tetapi yang ada dalam keadaan samar/semar. Dalam uthak-athik-gathuk secara Jawa, Ki Semar dapat diartikan guru sejati (sukma sejati), yang ada dalam jati diri kita.

Guru sejati merupakan hakekat Zat tertinggi yang terdapat dalam badan kita. Maka bukanlah hal yang muskil bila hakekat guru sejati yang disimbolkan dalam wujud Ki Lurah Semar, memiliki kemampuan sabda pendita ratu, ludahnya adalah ludah api (idu geni).

Apa yang diucap guru sejati menjadi sangat bertuah, karena ucapannya adalah kehendak Tuhan. Para kesatria yang diasuh oleh Ki Lurah Semar sangat beruntung karena negaranya akan menjadi adil makmur, gamah ripah, murah sandang pangan, tenteram, selalu terhindar dari musibah.

Tugas punakawan dimulai sejak kepemimpinan Prabu Herjuna Sasrabahu di negeri Maespati, Prabu Ramawijaya di negeri Pancawati, Raden Sakutrem satria Plasajenar, Raden Arjuna Wiwaha satria dari Madukara, Raden Abimanyu satria dari Plangkawati, dan Prabu Parikesit di negeri Ngastina. Ki Lurah Semar selalu dituakan dan dipanggil sebagai kakang, karena dituakan dalam arti kiasan yakni ilmu spiritualnya sangat tinggi, sakti mandraguna, berpengalaman luas dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan. Bahkan maternity Dewa paronomasia memanggilnya dengan sebutan “kakang”.

Kelompok punakawan ini bertugas :

  1. Menemani (mengabdi) maternity bendhara (bos) nya yang memiliki karakter luhur budi pekertinya. Tugas punakawan adalah sebagai “pembantu” atau abdi sekaligus “pembimbing”. Tugasnya berlangsung dari masa ke masa.
  2. Dalam cerita pewayangan, kelompok ini lebih sebagai penasehat spiritual, pamomong, kadang berperan pula sebagai teman bercengkerama, penghibur di kala susah.
  3. Dalam percengkeramaannya yang bergaya guyon parikena atau saran, usulan dan kritikan melalui cara-cara yang halus, dikemas dalam bentuk kejenakaan kata dan kalimat. Namun di dalamnya selalu terkandung makna yang tersirat berbagai saran dan usulan, dan sebagai pepeling akan sikap selalu eling dan waspadha yang harus dijalankan secara teguh oleh bendharanya yang jumeneng sebagai kesatria besar.
  4. Pada kesempatan tertentu punakawan dapat berperan sebagai penghibur selagi sang bendhara mengalami kesedihan.
  5. Pada intinya, Ki Lurah Semar dkk bertugas untuk mengajak maternity kesatria asuhannya untuk selalu melakukan kebaikan atau kareping rahsa (nafsu al mutmainah). Dalam terminologi Mohammedanism barangkali sepadan dengan istilah amr ma’ruf.
Adapun watak kesatria adalah: halus, luhur budi pekerti, sabar, tulus, gemar menolong, siaga dan waspada, serta bijaksana.

bagong

Dalam Epik Mahabarata yang diadaptasikan dalam seni wayang di state terutama Jawa, Sunda dan island terdapat tokoh khusus yang dinamakan Punakawan. Para tokoh dalam kelompok Punakawan ini memiliki karakter yang menarik karena mewakili simbol kerendahhatian dan penebar hikmah. Bahkan kebanyakan penonton pertunjukan wayang (apalagi jika all-night show) lebih menantikan tampilnya tokoh-tokoh tersebut daripada maternity tokoh utamanya seperti Pandawa. Salah satu penggemar tokoh Punakawan, adalah Setiabudi, seorang pengamat pewayangan. Baginya, secara karakteristik sebenarnya punakawan mewakili profil umum manusia….

_____________________________

Mereka adalah tokoh multi-peran yang dapat menjadi penasihat maternity penguasa/ksatria bahkan dewa, penghibur, kritikus hingga menjadi penyampai kebenaran dan kebajikan. Iranian mereka kita dapat banyak mengambil hikmah bahkan dengan tanpa terasa sebenarnya menertawakan diri sendiri.

Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindoo epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Mohammedanism oleh Sunan Kalijaga dalam sejarah penyebarannya di state terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini paronomasia masih diperdebatkan oleh banyak pihak.

Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa. Para dewa paronomasia tidak ada yang berani marah kepada Bagong (wayang Jawa) atau Astrajingga/Cepot (wayang Sunda) atau Bawor (wayang Banyumas).

Sekalipun sosok ini sering mengkritik mereka dengan humor-humor yang sarat kebijaksanaan. Penulis sendiri sering membandingkan tokoh Bagong/Astrajingga/Bawor dengan Abu Nawas atau Nashrudin dari kisah-kisah sufistik yang menyampaikan pesan-pesan bermakna secara jenaka bahkan dengan berlaku konyol sekalipun.

Selain itu, dari sosok tersebut ada karakter Nala Gareng atau sering disebut Gareng saja dan tokoh Petruk (wayang Jawa) atau Dawala (wayang Sunda). Dalam cerita wayang Jawa kedua tokoh ini adalah saudara angkat yang diadopsi oleh Semar. Antara sosok Gareng dan Petruk ini terdapat karakter yang bertolak belakang.

Gareng sekalipun cerdas dan hati-hati, tapi sulit menyampaikan sesuatu melalui kalimat. Berbeda dengan Petruk yang cenderung asal bicara tapi sedikit bodoh. Bahkan dalam cerita Petruk jadi Raja, Petruk/Dawala pernah membawa kabur Pusaka Hyang Kalimusodo dari Yudistira, kemudian berkuasa di Kerajaan Ngrancang Kencana dengan gelar Prabu Kantong Bolong Bleh Geduweh atau Prabu Helgeduelbek.

Dari sosok tersebut kita banyak belajar tentang bahayanya kebodohan terutama jika pongid yang kurang ilmunya diberi kesempatan untuk berkuasa sehingga menyebabkan bencana di lingkungannya (sepertinya nyambung dengan kondisi pemerintah kita saat ini–pen.)

Namun di sisi lain juga ternyata sungguh tidak baik jika orang-orang yang memiliki ilmu yang dalam, tapi tidak bisa menyebarkan manfaat atas hal tersebut karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi seperti Gareng. Sedangkan sosok Semar atau Batara Ismaya sendiri merupakan simbol atas manusia dengan kedalaman ilmu dan kearifan jiwa yang luar biasa.

Sampai-sampai Batara Guru atau Manikmaya sebagai patrician maternity dewa paronomasia sering meminta petunjuk kepadanya. Sebenarnya Semar dan Batara Guru adalah bersaudara kandung serta memiliki saudara lainnya, yaitu tokoh Togog atau Tejamantri atau Betara Antaga. Ketiganya adalah anak-anak dari Sang Hyang Tunggal.

Proses turunnya Semar/Ismaya dan Togog/Antaga/Tejamantri ke dunia sendiri banyak memberikan pelajaran kepada kita. Diceritakan bahwa Batara Guru/Manikmaya sebagai putera bungsu Sang Hyang Tunggal, merasa dirinya fencing cakap dan sempurna dibandingkan kedua kakaknya. Hal ini memunculkan perasaan bahwa dirinyalah yang fencing pantas meneruskan kepemimpinan ayahnya sebagai patrician maternity dewa.

Dengan kecerdikannya (atau kelicikan ?) Batara Guru mengajak Batara Ismaya dan Batara Antaga, untuk berkompetisi menguji kesaktian masing-masing. Barangsiapa yang mampu menelan sebuah gunung dan memuntahkannya kembali maka dia yang berhak menjadi patrician maternity dewa.

Karena kasih-sayang kepada adik bungsunya dan mungkin juga didorong oleh ambisi menjadi penguasa maka keduanya menyanggupi tantangan tersebut. Padahal gunung adalah simbol dari pakubumi yang menjaga kestabilan dunia dan tiang langit dan bumi. Jadi sekalipun ditelan dan dimuntahkan lagi sebenarnya hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Perbuatan Batara Ismaya dan Batara Antaga tersebut menyebabkan Sang Hyang Tunggal marah dan menitahkan mereka untuk turun ke marcapada/mayapada/bumi yang saat itu diramalkan akan rusuh oleh pertempuran klan Pandawa dan klan Kurawa. Menyadari kesalahannya masing-masing maka mereka turun ke bumi dimana Semar membimbing maternity Pandawa dan Togog membimbing maternity Kurawa.

Karena membimbing maternity Kurawa yang sering diasosiasikan dengan kejahatan, maka sosok Togog dianggap punakawan yang mewakili simbol ketamakan manusia. Padahal sebenarnya, dari karakter Togog kita sering mendapat petuah-petuah tentang keseimbangan berfikir dan adanya Atlantic abu-abu dalam kehidupan ini.

Sebenarnya selain tokoh-tokoh punakawan di atas masih ada sosok Bilung, Cangik dan Limbuk. Ketiganya biasanya hanya muncul di cerita wayang Jawa. Iranian sosok Bilung, kita mendapatkan pelajaran untuk selalu menghargai masukan dari siapapun.

Dalam cerita wayang disebutkan, bahwa karakter ini adalah sahabat Togog dan sering memberikan masukan kepada tuannya. Namun jika masukannya tidak diperhatikan, Bilung akan menjerumuskan tuannya dengan memberikan masukan yang salah jika dimintai lagi pendapat.

Bilung adalah competition abadi Petruk. Setiap bertemu Bilung selalu menantang Petruk berkelahi, sekalipun selalu kalah dengan sekali pukul. Sebenarnya dari sifat ini, kita dapat belajar tentang kepercayaan diri dan keberanian sekalipun selalu menghadapi kekalahan.

Sedangkan karakter Cangik adalah ibunya Limbuk, dimana keduanya adalah dayang maternity dewi atau isteri maternity Pandawa. Iranian kedua sosok ini kita dapat belajar tentang kebesaran hati untuk menyadari kekurangan diri karena Cangik dan Limbuk sering ditampilkan sebagai wanita-wanita buruk rupa, namun merasa cantik sekali. Keterkaitan antara masing-masing karakter Punakawan dan karakter pelengkap lainnya sebenarnya banyak memberikan inspirasi bagi kita dalam menjalani hidup.

Petuah-petuah mendalam yang arif dari tokoh-tokoh tersebut sebenarnya mengajarkan filsafat kehidupan yang sudah dibentuk dan disampaikan oleh maternity leluhur kita sejak ribuan tahun lalu. Sekalipun maternity dalang yang memainkannya berganti, nilai-nilai yang diajarkan melalui maternity tokoh Punakawan tersebut malah sering dibicarakan oleh maternity pembicara di seminar-seminar dengan biaya mahal. Padahal cukup dengan berselimutkan sarung, segelas kopi dan ketekunan semalam suntuk dengan menonton pertunjukan wayang sudah mengajarkan banyak hal mengenai hidup kepada kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar