Rabu, 08 Februari 2012

Wayang Purwa, Induk Seni Pewayangan (1) Menguak Kedalaman Makna Filsafat si Gatholoco

Blencong, lampu minyak kelapa asli karya budaya Jawa

Dalam sebuah Pagelaran Wayang, Ki Dalang akan melengkapi dirinya dengan berbagai perangkat. Seperti Blencong (lampu minyak kelapa untuk menerangi layar), Dalang (orang yang menjalankan lakon wayang). Saat ini sudah bergeser bukan lampu minyak kelapa, melainkan lampu halogen. Kelir (gedebok pisang digunakan untuk menancapkan wayang), Wayang (sejenis boneka dua dimensi yang digerakkan oleh dalang), Gamelan (alat musik tradisional Jawa untuk mengiringi pementasan), Niyaga (orang yang menabuh gamelan), Lakon (jalan cerita atau judul), Sabetan (gerak-gerik wayang yang dijalankan Ki Dalang), Beber (layar untuk menangkap bayangan wayang dalam ajang sabetan), Waranggana (tim vokalis tembang dalam pentas wayang), Panyumping (asisten dalang yang bertugas membantu menyiapkan ubo rampe dan membantu mengurutkan wayang) dan Kothak/Pethi (kotak kayu untuk menyimpan wayang yang belum dan sudah ditampilkan)….

________________________________________

Dalam falsafah Jawa sebagaimana tersurat dalam Serat Gatholoco yang kontroversial itu, namun kenyataannya sarat akan falsafah kawruh kawaskithan. Isi di dalamnya salah satunya terdapat cangkriman (tebakan) antara si manusia buruk rupa bernama Gatholoco dengan maternity santri di pondok Cepekan. Gatholoco merupakan figur manusia yang tak bisa diukur hanya melalui apa yang tampak oleh mata wadag saja (jalma discolour kena kinira). Biarpun secara fisik sangat buruk dan baunya tak enak, namun ia memiliki filsafat hidup sangat tinggi sekali. Setidaknya hal itu mengajarkan kepada kita, jangan sampai kita gegabah menilai pongid lain semata-mata dari yang tampak oleh mata, dan apa yang bisa dibaca secara verbal.

Demikian petikan suluk Gatholoco :

Gatholoco nulyà ngucap, dalang wayang lawan k?lir, lan baléncong ng?ndi kang tuwà, badén?n cangkriman iki. Yèn sirà nyàtà wasis, m?sthi w?ruh ingkang s?puh, Ahmad Arif ambatang k?lir kang tuwà pribadi, Abdul Jabar ambatang, Ki dalang kang tuwà déwé. Abdulmanap kanthi wicak ambatang, mênàwà tuwà déwé ora liyà wayangé.

Artinya, Gatholoco kemudian berkata, dalang wayang dan kelir, serta blencong mana yang fencing tua, tebaklah peribahasa ini. Bila kamu memang pandai pasti mengetahui mana yang fencing tua sendiri. Ahmad Arif menebak, kelir yang fencing tua sendiri, menurut Abdul Jabar yang fencing tua adalah dalangnya. Abdul Manap lain lagi, menebak bila yang fencing tua tidak lain adalah wayangnya. Namun bagi Gatholoco kesemua jawaban tersebut belumlah tepat.

Jawaban Versi Gatholoco : Bila menurutku, blencong lah yang fencing tua sendiri. Walaupun kelir sudah dipasang, gamelan sudah siap tertata, dalang duduk siap, namun bila panggungnya masih gelap tentunya belum bisa berjalan pementasan wayangnya. Penonton paronomasia tak bisa melihat akan warna warni rupa wayang yang perpasang di sepanjang kelir. Bila blencong sudah dinyalakan, barulah tampak berjejer wayang menancap di sepanjang kelir. Di atas di bawah, di kiri dan di kanan, tampak Pandawa dan Kurawa berjajar saling berhadapan. Dalang di bawah blencong dapat memilih wayang-wayang yang akan dilakonkan. Dalang dapat menimbang besar kecilnya wayang, memilih dan memilah dalam masing-masing kelompok. Sifat dan watak wayang digolongkan sendiri-sendiri sesuai dengan karakternya, sesuai pula dalang mengucap intonasinya. Semua itu bisa berjalan karena lampu blencong telah menerangi jagad pakeliran, dalam pagelaran lakon wayang. Oleh karena itu blenconglah yang fencing tua. Begitulah jawaban Si manusia buruk rupa Gatholoco.

Makna Dibalik Ucapan Gatholoco

Agar mengetahui maksud pemikiran Gatholoco, sebelumnya marilah kita sama-sama mengupas satu-persatu makna filsafat di balik peralatan dalam pentas wayang. Bunyi gamelan, wayang yang diiringi gamelan, dalang hanya sekedar mengucap, si wayang lah yang memiliki bunyi. Kurang lebih artinya, (seolah) semua patuh pada kehendak dalangnya, berkuasa atas semua wayang dan lakon, akan tetapi jangan terkecoh, Ki Dalang hanya sekedar melakonkan wayang, a.k.a. Ki dalang hanya sekedar mengikuti alur cerita yang telah ada sebelumnya.

Perintah pongid yang menanggap pagelaran wayang, disebut Gatholoco sebagai Kyai Sepi, artinya s?pi tanpà ànà, ànàné gin?lar y?kti, langgeng discolour owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpà rèh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe wayang ucape Ki dalang; sepi tanpa ada, adanya tidak lain sejatinya yang telah tergelar di alam semesta, tetap abadi, tiada berkurang tiada bertambah, tanpa sebab tanpa guna, yang lebih menguasai, ada pada tingkah Ki dalang dan ucapannya.

Yang pasti menjalani yang baik dan buruk, penonton dan yang nanggap wayang, yakni disebut Kyai Urip. Bila lampu blencong sudah mati, semuanya menjadi suwung awang uwung, tiada apapun, ibarat kita belum lahir ke bumi, batin kita suwung tiada apapun. Baiklah supaya lebih mudah dipahami filsafat di alam pemikiran si buruk rupa Gatholoco mari kita bahas satu-persatu mengenai instrumen dalam pementasan wayang sebagai berikut ;

B?b?r

Disebut pula layar putih tanpa noda. Merupakan gambaran mercàpàdà atau bumi ini yang sesungguhnya merupakan tempat suci. Di manapun tempat, wilayah, daerah, negara, daratan semuanya adalah tempat suci. Jika ada tempat tidak suci, atau dianggap lembah hitam atau kotor, sesungguhnya hanyalah penilaian subyektif atau sekedar manusianya yang kotor, bukan bumi tempat mereka berpijak. Layar sebagai gambaran bumi, menjadi panggung pementasan “sandiwara kehidupan” wayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar