Selasa, 10 April 2012

Candi Planggatan, Kisah Sejarah Yang Terpendam

Puncak_Bukit_1.jpg

Sebuah perjalanan menyusuri lereng Gunung Lawu, gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jalanan menanjak curam dan berkelok-kelok tajam dengan udara yang dingin menyegarkan, suasana khas dataran tinggi. Di sepanjang jalan tampak bukit-bukit yang dihiasi dengan pepohonan cemara, pinus dan hamparan sawah ladang, menghijau memanjakan mata. Keindahan yang jangan sampai membuat terlena, sebab di kanan-kiri jalan banyak terdapat jurang-jurang yang sungguh dalam. Jalan makin menanjak tinggi ketika semakin mendekati daerah Ngargoyoso. Selain terkenal dengan agro wisata kebun teh Kemuning, daerah ini juga terkenal dengan dua buah bangunan bersejarah berupa candi, yaitu Candi Cetho dan Candi Sukuh.

Batu_Candi.jpg

Batuan candi tampak berserakan.

Dari gerbang pintu masuk ke kawasan agro wisata Kemuning, perjalanan dilanjutkan mengarah ke Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, melewati jalanan yang lebih kecil untuk menuju ke situs Candi Planggatan. Setelah melewati Telaga Madirdo, maka perjalanan telah memasuki Dusun Tambak, Desa Planggatan, Ngargoyoso, Karanganyar, dimana lokasi situs Candi Planggatan tersebut berada. Situs tersebut berada di dekat pemukiman penduduk yang berupa bukit kecil dengan beberapa pohon besar di puncak bukitnya. Secara keseluruhan luas situs itu sekita 30-50 meter persegi, berada di ketinggian 910 m diatas permukaan laut. Candi Planggatan itu sendiri berupa sebuah bukit dengan beberapa fragmen batuan candi berbentuk persegi yang beberapa diantaranya mempunyai relief-relief. Beberapa batuan-batuan candi itu tampak tersembul di bagian bawah bukit yang diduga kuat sebagai bagian dari kaki candi. Bentuk keseluruhan candi secara utuh belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan masih terkubur dalam tanah. Terdapat batu-batu besar di antara akar-akar pohon di bagian puncak bukit yang dipercaya sebagai pusat dari candi tersebut. Di Situs tersebut ditemukan juga arca lingga yoni dalam ukuran kecil dan bokor batu yang biasa untuk tempat sesaji.

Relief_figur_manusia_Sukuh_1.jpg Relief yang menggambarkan manusia Sukuh.

Relief yang terdapat di Candi Planggatan mempunyai gaya penggambaran bentuk-bentuk manusia dan tehnis pemahatannya yang ciri-cirinya sama dengan relief di dua candi sekitarnya yaitu Candi Cetho dan Sukuh. Relief-relief candi planggatan berisi antara lain tentang, seseorang bangsawan yang sedang menunggang kuda dengan dua orang pengawalnya yang membawa tombak serta payung kebesaran. Dibelakangnya terdapat pahatan berwujud bangunan yang bentuknya seperti altar pemujaan yang terdapat di Candi Cetho. Di batu lain terdapat pahatan yang menggambarkan bala tentara yang sedang berbaris dengan senjata tombaknya yang siap terhunus.

Gajah_Wiku_1.jpg Gajah Wiku.

Relief yang sangat menonjol lainnya adalah pahatan berupa Gajah Wiku, yaitu makhluk penggambaran dewata berbadan manusia dan berkepala gajah. Ada pahatan huruf-huruf kuno di dekat pahatan Gajah Wiku. Pahatan tersebut biasanya berisi sangkalan atau sandi penanggalan yang bisa menjelaskan kapan dan siapa yang membangun candi tersebut. Relief-relief tersebut baru ditemukan sebagian kecil saja, maka belum bisa memberikan rangkaian cerita yang utuh. Tapi, dari gaya pahatan serta penggambaran tokoh-tokoh yang ada didalamnya, di duga kuat Candi tersebut masih satu rangkaian dengan Candi Cetho dan Sukuh yang sama-sama dibangun pada masa Majapahit akhir.

Relief_Pasukan_Perang_1.jpg Relief bergambar pasukan, yang separuh bagiannya masih terpendam tanah.

Masyarakat sekitar situs Candi Planggatan berharap agar candi tersebut segera di bangun kembali. Mereka berharap agar daerahnya bisa menjadi tempat wisata dan peziarahan, sehingga ada tambahan sumber pendapatan dari para pengunjung yang datang. Memang jika tidak ada perhatian dari lembaga yang berwenang, candi tersebut akan terancam rusak akibat perubahan cuaca dan proses alam yang terus menerus, serta terancam oleh tindak pencurian.

Bokor_Batu_Tempat_sesaji.jpg

Batu bokor.

Lingga_Yoni.jpg

Batu lingga yoni.

Candi Planggatan adalah situs yang penting untuk dilindungi serta dilestarikan keberadaannya. Bagaimanapun pernah ada cerita yang menjadikan batu-batu ini berdiri dengan pahatan indah di kala itu. Dan kemungkinan tersimpan sedikit cerita yang bisa mengambarkan kisah untuk memahami alur sejarah pada jaman akhir kejayaan Kerajaan Majapahit di lereng Gunung Lawu. Tidak tertutup kemungkinan, dengan mempelajari situs ini, akan bisa menjadi mata rantai awal untuk memahami situs-situs purbakala lain di sekitar Gunung Lawu, agar menjadi satu rangkaian sejarah yang utuh dan bisa memberikan kekayaan pengetahuan untuk banyak generasi di masa sekarang hingga masa depan. Salam kratonpedia.

Sangkalan_1.jpg

Batu sangkalan, atau batu berisi sandi waktu pembuatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar