Selasa, 10 April 2012

CANDI SUKUH candi paling erotis se ASIA TENGGARA

CANDI SUKUH candi paling erotis se ASIA TENGGARA

Candi Sukuh, Gunung Lawu, Jawa Tengah
Candi sukuh merupakan peninggalan majapahit yang sangat monumental dan sangat kontroversial dalam bentuk bangunannya. candi yang di pugar pada tahun 1928 ini berbentuk trapesium yang sangat tidak lazim dalam bentuk candi pada umumnya sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pendatang. ketika kami masuk pada gerbang candi,ada nuansa berbeda yang kami rasakan.

Kota budaya itulah sebutan yang sering dilontarkan wisatawan ketika mendatangi kota surakarta. Tempat yang mempunyai berbagai objek wisata tersedia di sini, dari wisata budaya sampai wisata alamnya yang sangat menarik. Berdasarkan sejarahnya, kota surakarta memilki peranan yang besar dalam pemerintahan era kerajaan di mana pada masa itu surakarta menjadi pusat pada masa akhir kesultanan mataram dan setelah pecahnya kesultanan mataram, surakarta terbagi menjadi dua pusat pemerintahan yaitu pemerintahan kasunanan surakarta dan praja mangkunagaran.

Ritme sehari-hari kota surakarta cukup dinamis dikarenakan ada beberapa pusat perekonomian berada di kota ini. Dengan slogan “spirit Of Java” memberikan efek positif terhadap kehidupan sosial, budaya dan ekonomi bagi warga surakarta pada khususnya dan warga jawa tengah pada umumnya, serta secara kultural memberikan motivasi terhadap masyarakat yang berdarah jawa di penjuru Indonesia maupun di dunia.

Sukuh dan peradabannya

Sukuh adalah salah satu dari beberapa tempat dimana peradaban majapahit dalam sejarah berlangsung. kerajaan majapahit memegang kendali kekuasaan dari abad 1293 sampai dengan 1500 dan puncak kejayaanya pada 1350 hingga 1389 di bawah kepemimpinan hayam wuruk. majapahit merupakan kerajaan besar yang mempunyai misi menyatukan nusantara, tetapi sepeninggalan hayam wuruk dan gajah mada, majapahit memasuki babak kehancuran dimana adanya perang saudara, sulitnya mencari pemimpin pengganti sampai datangnya kerajaan islam yang akan mendompleng majapahit.

Prabu Brawijaya V sebagai raja terakhir dari kerajaan majapahit merasakan keadaan terdesak karena Demak kerajaan islam melakukan penyerangan dan yang lebih fatalnya kerajaan Demak di punggawai oleh putra dari prabu Brawijaya V, sehingga melarikan diri jauh dari istananya sampai ke Gunung Lawu. Sang Prabu dengan hanya disertai Sabdopalon yang diam-diam meninggalkan keraton dan berkelana yang pada akhirnya naik ke Gunung Lawu. Ketika dalam perjalanan menuju puncak gunung, sang prabu bertemu dengan dua orang yang merupakan kepala desa tersebut dan melihat raja mereka menuju puncak maka dua orang itupun memilih untuk ikut serta dalam perjalanan bersama sang prabu.

Menurut cerita yang beredar Sang Prabu sempat bertitah, "Wahai para abdi yang setia, sekarang sudah saatnya aku harus mundur, aku harus meninggalkan dunia yang ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu maka kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk ghaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/ gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak''. Sehingga, dengan cerita tersebut maka masyarakat sekitar pun percaya bahwa sang prabu telah moksa di gunung lawu. Selain gunung lawu, ada beberapa candi yang juga berkaitan penting terhadap eksistensi kerajaan majapahit.

Sedangkan nama sukuh sendiri dari kerthabasanya memiliki 3 arti, yang pertama, “kesusu waton bakuh” atau tergesa-gesa asalkan kuat. Hal ini menurut petugas dari dinas pariwisata kabupaten karanganyar dikarenakan sang prabu dalam kondisi melarikan diri, sehingga hanya bisa membuat sebuah tempat ibadah untuk ritual keagamaan secara sederhana dan tergesa-gesa, tidak mungkin membuat sebuah tempat ibadah yang fenomenal seperti Candi Borobudur atau Prambanan.“Karena dalam kondisi melarikan diri, candi ini dibuat ‘kesusu’ (tergesa-gesa) asalkan ‘bakuh’ (kuat)”. lanjutnya.

Hal ini nampak dari bentuk bangunannya yang sederhana, hanya 3 teras, dan relief-relief yang ada di dalam candi. “ Relief-relief yang ada di dalam candi dibuat bukan oleh seorang yang ahli atau mpu ukir, akan tetapi oleh rakyat biasa yang dinilai mampu untuk memahat relief, sehingga terlihat kasar dan sederhana” tambahnya lagi. Arti nama sukuh yang kedua adalah, “su” (lebih) dan “kuh” ( kuat), jadi candi ini dibuat asal kuat sebagai tempat beribadah. Dan arti nama sukuh yang ketiga, berasal dari bahasa jawa “suku” yang berarti kaki, karena letaknya yang berada di kaki gunung lawu.

Candi Sukuh, Gunung Lawu, Jawa Tengah
Penelusuran arsitektur candi sukuh



Candi sukuh merupakan saksi bisu dari keterdesakkan majapahit dalam menahan serangan dari kerajaan demak. Jika kita melihat arsitektur candi sukuh, memang mengingatkan kita terhadap bangunan-bangunan peninggalan suku maya dan suku inca, dimana berbentuk piramida dengan bagian atasnya di tumpulkan sehingga lebih tepat jika di sebut berbentuk trapesium.

Sosok unik ketika pertama kali kita melihat bangunan itu, membuat kami ingin menyelidiki candi sukuh lebih lanjut. Arsitektur dengan struktur batu yang disusun ke atas atau lebih sering di sebut sebagai punden berundak. Arsitektur dengan gaya punden berundak banyak kita lihat pada situs-situs di Indonesia maupun dunia. Penemuan Punden berundak sudah di temukan sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu dan masih berkelanjutan sampai dengan zaman sejarah.

Punden yang dalam bahasa jawa mempunyai makna terhormat dan berundak mempunyai arti bertingkat di indonesia dapat kita temui di beberapa daerah yang berdataran tinggi. Candi bermodel undakan di pulau jawa dan bali hampir serupa dengan bangunan yang berada di polynesia bernama marae. Kesamaan yang terjadi mungkin membuktikan bahwa adanya kebudayaan tersebut berasal dari warisan austronesia awal.

Struktur bangunan yang sederhana membuat arkeolog belanda W F stutterheim pada tahun 1930 melakukan penelusuran dan mencoba menerangkan bahwa ada tiga alasan mengenai bentuk candi sukuh. Pertama, candi sukuh mungkin saja di pahat oleh orang yang pandai memahat kayu dan bukan seorang tukang batu, sehingga dalam konstruksinya terlihat kasar. Kedua, kemungkinan dalam pembuatannya terburu-buru yang membuat hasilnya pun terlihat kurang rapi. Ketiga, keadaan politik yang tidak stabil dan kterdesakkan majapahit sehingga tidak memungkinkan membuat candi yang besar dan mewah.

Kami melihat batu yang di gunakan berjenis andesit yang membuat candi ini telihat kemerahan. Ketika memasuki pintu utama kami melihat gapura besar dengan arsitektur khas yang berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.

- Teras utama
Memasuki teras pertama ada sebuah sangkala yang dalam kitab sudamala berbunyi gapura buta abara wong jika di artikan dalam bahasa indonesia adalah
Gapura = pintu gerbang, angka 9.
Buta = raksasa, angka 5.
Abara = memangsa, angka 3.
Wong = manusia, angka 1.
Jika angka tersebut di balik akan memperlihatkan angka 1359 tahun saka atau dalam tahun masehi 1437, yang mungkin saja tahun tersebut adalah tahun peresmian pintu gerbang candi tersebut. Jika kita melihat ke lantai bawah terdapat juga sebuah relief di lantai gapura, berupa “lingga” (alat kelamin laki-laki) yang melambangkan dewa siwa dan “yoni” (alat kelamin wanita) yang melambangkan dewi durga, dilingkari oleh sebuah rantai emas atau “wiworo wiyoso anahut jalu”.
Candi Sukuh, fertility symbol,  Gunung Lawu, Jawa Tengah
Relief melambangkan tentang kesuburan,yang dapat di artikan bahwa seorang anak terlahir karena “lingga” bertemu dengan “yoni” yang di ikat oleh tali pernikahan yang digambarkan berupa sebuah rantai emas yang melingkari lingga dan yoni.

Dalam cerita lain terdapat sebuah mitos tentang relief ini, menurut sejarah, gapura ini merupakan sebuah tempat untuk mengetes keperawanan seorang wanita pada zaman dahulu kala.
Mitosnya, apabila seorang wanita akan menikah, ia disuruh berjalan melewati relief ini, jika stagen atau kain yang melilit pinggangnya lepas, menurut mitos tadi wanita tersebut sudah tidak perawan lagi. Akan tetapi apabila kembennya yang merosot, dipercaya bahwa nanti setelah menikah, wanita ini suka selingkuh.

Akan tetapi sekarang gapura ini sudah ditutup untuk menjaga agar relief yang berada di gapura ini tidak rusak. Dan untuk pengunjung yang ingin masuk kompleks area candi, terdapat sebuah jalan setapak yang berada disebelah kanan gapura.
Di teras pertama ini selain gapura, terdapat juga beberapa relief di area ini, seperti relief sapi, gajah, celeng (babi liar), dan relief seorang pangeran yang sedang menunggan kuda. Terdapat pula beberapa buah pondasi dari batu yang diperkirakan dulu merupakan pondasi sebuah bangunan atau pendopo.

- Teras kedua
Perjalanan kami pun berlanjut pada teras kedua lalu terlihatlah patung garuda yang kepalanya sudah rusak dan pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula yang jika dalam bahasa Jawa menerangkan bahwa “Gajah pendeta menggigit ekor”.
Gajah = Gajah, angka 8
Wiku = pendeta, angka 7
Anahut = menggigit, angka 3
Buntut = ekor, angka 1
Sampai saat ini memang tidak ada yang bisa menjelaskan secara pasti tahun apa yang tercatat di patung tersebut, tetapi itu dapat membuktikan bahwa peradaban yang mereka lalui sangat luar biasa, dimana dalam kesederhanaan arsitekturnya mempunyai makna yang sangat kompleks.

Kaki pun membawa kami pada teras ketiga di mana bangunan utama sangat jelas terpampang di hadapan kami. Menurut cerita, arsitektur candi yang seperti trapesium tersebut memang sengaja di buat demikian karena konon anak tangga yang di buat menuju puncak tarpesium adalah untuk mengetes keperawanan seorang wanita.

Bentuk berundak inipun mengingatkan kami pada situs punden berundak gunung padang di cianjur. Mengingat bahwa mengapa masyarakat pada zaman dahulu lebih dominan memakai bentuk bangunan berundak, mungkin saja karena bentuk tersebut mempunyai struktur yang kokoh. Dengan bukti bahwa bangunan-bangunan tersebut sudah berumur ribuan tahun tetapi masih saja tegak berdiri di tanah ini.

Pada teras terakhir banyak sekali relief-relief yang menceritakan beberapa kisah tentang para dewa maupun dewi dalam banyak versi. Diantaranya, pada relief pertama menceritakan tentang sadewa yang sedang berjongkok dan di belakangnya terdapat seorang punakawan (pengiring). Terlihat juga dewi durga tepat di hadapan sadewa yang juga di sertai punakawan.

Berlanjut pada relief kedua, pada gambar terlihat dewi durga telah menjadi raksasi (raksasa wanita) dan dua orang raksasa yang akan membunuh sadewa. Lalu pada gambar berikutnya masih juga sadewa yang menjadi tokoh utama pada relief ini berhadapan dengan tabib yang bernama tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas untuk menyembuhkan kebutaannya.


Pada relief ke empat menggambarkan bahwa tambrapetra berterima kasih dan akan menikahkan putrinya kepada sadewa. Relief terakhir mungkin terlihat tidak relevan dengan relief-relief tadi karena pada pahatan ini menggambarkan bahwa bima sedang mengadu kekuatannya dengan kedua raksasa yaitu kalantaka dan kalanjaya serta terlihat bahwa kedua raksasa itu di angkat oleh bima.
Temple sculpture, Candi Sukuh, Gunung Lawu
Banyak sekali cerita yang berkembang tentang candi sukuh dan banyak pertanyaan untuk apa candi sukuh di buat. Sejak sekitar tahun 1500 candi ini berdiri sehingga mebuat candi ini rentan terhadap fenomena alam yang terjadi dan yang tidak bisa di antisipasi. Beberapa batuan mulai melapuk dan patahan-patahan kecil telah menyerang batuan di candi sukuh akibat musim panas yang berlebihan dan cuaca dingin karena terletak pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut membuat tingkat kelembaban semakin tinggi.

Fungsi dan tujuan di bangunnya candi sukuh memang belum ada yang dapat menjelaskan secara pasti di karenakan banyak versi cerita tentang candi tersebut. Lalu, apakah mungkin candi yang terkesan sederhana ini dan di buat dalam keadaan terdesak mempunyai makna filosofi yang tinggi?

Biarlah batu, relief, dan bangunan itu mengartikan sendiri cerita yang menakjubkan. Pergerakan waktu menunjukan bahwa bangunan ini melalui masa-masa yang luar biasa.


Masyarakat dan candi

Warga dukuh Berjo merupakan warga yang tempat tinggalnya paling dekat dengan candi sukuh. Bagi sebagian warga disana, dengan adanya candi yang mengundang banyak wisatawan lokal maupun wisatawan asing ini merasakan pengaruh yang cukup baik seperti dibangunnya jalan menuju situs ini. Namun apabila diperhatikan lagi tidak semua warga dapat merasakan dampak positif dengan adanya candi di sekitar daerah tempat tinggalnya tersebut.

“ Pengaruhnya ada karena saya bertempat tinggal dekat sekali dengan candi, setiap satu tahun sekali selalu diadakan acara panggag tumpeng” ujar sutarno(50). Panggang tumpeng selalu dilaksanakan setiap tanggal 1 suro dan panitia yang mengadakan acara itu adalah pemerintahan Kabupaten Karanganyar.

Bagi suarni(30) dan keluarganya, ada atau tidak adanya candi sukuh dekat rumahnya tidak berpengaruh apapun .“ kalau tidak ada modal tetap saja tidak ada pengaruh karena tidak bisa jualan disana, saya biasa mencari kayu di hutan sebagai usaha untuk mendapatkan sesuap nasi” komentar Suarni. “kalau ada acara-acara ritual di candi sukuh saya dan sebagian besar tetangga tidak mengikutinya karena kebanyakan yang mengikutinya adalah warga dari luar desa Sukuh.” Lanjutnya.

Pada dasarnya secara ekonomi tidak berpengaruh banyak bagi masyarakat sekitar terutama yang tidak memiliki modal untuk berjualan di sekitar lokasi situs. Pendapatan yang didapatkan akibat adanya situs ini adalah penjualan tiket untuk masuk kedalam situs ini, hasilnya di gunakan untuk membayar para pekerja yang menjaga dan membersihkan situs dan sebagian diberikann kepada pemerintahan setempat.

Secara spiritual kebanyakan warga luar daerah seperti dari solo dan Bali yang melaksanakan ritual di candi di Sukuh dan hanya sebagian kecil warga di Dukuh berjo yang melakukan ritual di Candi. Namun meskipun begitu Warga yakin kalau situs ini harus di jaga karena merupakan bagian kekayaan sejarah bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar