Jumat, 20 April 2012

Keris tak semuanya mistis




Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.
Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.


Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. “Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan,” paparnya, kepada Harian Jogja.
Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.

Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. “Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,”paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai “sikep” atau “piyandel”, ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai “sengkalan” atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

“Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,”papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.
Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?
Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. “Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,”papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. “Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris,” papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.
Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.
Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
“Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,”ungkapnya.
Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.
Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  “Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,”paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. “Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,”paparnya.
Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar