Senin, 02 April 2012

Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia

Resensi Buku Oleh: Mula Harahap

Intel
Ken Conboy
Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta 2007
ISBN: 978-9-793-93015-2
XIV + 294 halaman

Akhir-akhir ini media massa Indonesia–terutama televisi–mempunyai tradisi baru. Setiap kali terjadi peristiwa besar–terutama teror bom–maka sebagai bagian dari kemasan pemberitaannya, stasiun televisi gemar menghadirkan “pengamat intelijen” untuk melakukan analisa.

Manullang, Suripto dan Almarhum Juanda adalah beberapa “pengamat intelijen” yang sering mengoceh di layar televisi kita. Tapi karena dilakukan dalam durasi yang sangat singkat maka tentu saja ocehan para “pengamat intelijen” tersebut menjadi terkesan sumir, menjemukan
dan acapkali bodoh.

Ketika asap ledakan Bom Bali I atau II belum lagi pupus, maka para “pengamat intelijen” itu sudah mengoceh tentang teori “small nuclear bomb”. Dan cilakanya sebagai pemirsa kita tak pernah mendapat kesempatan untuk mendengar pertanggung-jawaban mereka,
ketika ternyata hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa bom tersebut adalah bom biasa yang berdaya ledak tinggi.

Para “pengamat intelijen” tersebut juga gemar mengaitkan sebuah peristiwa–yang belum lagi
diselidiki secara tuntas oleh polisi–sebagai sebuah konspirasi negara asing untuk memecah-belah Indonesia. Dan cilakanya mereka tak pernah mampu untuk menerangkan secara “masuk akal” bagaimana cara kerja dan ditil konspirasi tersebut dijalankan.

Memang kalau diocehkan hanya secara garis besar, kisah-kisah intelijen akan mejemukan. Kisah-kisah intelijen baru akan menarik kalau dituliskan secara panjang lebar dan dirangkai dalam gaya fiksi.

Dan pada kenyataannya kisah-kisah intelijen memang boleh dikatakan sebagai fiksi. Karena sifat operasi intelijen yang serba samar-samar, maka tidak akan pernah ada alat yang bisa mengukur atau memverifikasi apakah kisah-kisah tersebut memang benar demikian.

Kita tidak pernah tahu sejauh mana sebenarnya kebenaran yang ada dalam kisah tentang CIA, KGB atau Mossad, yang ditulis oleh mereka yang mengaku dekat atau pernah menjadi bagian dari institusi tersebut. Sebaliknya kita juga cenderung untuk percaya bahwa
fiksi “The Hunt for The Red October” juga mengandung kebenaran. Tapi karena si penulis mampu menghidupkan kisah-kisah tersebut maka tak terlalu perduli lagi terhadap fakta dan kebenaran. Kita hanya menikmati kisah-kisah tersebut. Dan memang demikianlah hakekatnya membaca kisah-kisah intelijen.

Berbeda dengan “pengamat intelijen” seperti Manullang, Suripto atau Juanda, Ken Conboy tidak mengoceh secara sumir di televisi. Ia menuliskan berbagai kasus dan peristiwa yang pernah terjadi dalam dunia intelijen Indonesia dalam uraian-uraian yang rinci, “masuk akal” dan enak.

Buku ini berisi berbagai kasus dan peristiwa yang terjadi dalam dunia Intelijen Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga tahun 2000-an. Walau pun Ken Conboy hanya bercerita tentang “intel melayu”, tapi ia mampu membuat kita terpukau seperti ketika membaca kisah-kisah tentang Mossad dalam “The Way of Deception”.

Dalam kisah “Durna”–misalnya–Ken Conboy bercerita tentang pertarungan perebutan kekuasaan dalam memanfaatkan intelijen. (Karena ruang geraknya yang serba tertutup maka intelijen selalu memiliki kecenderungan untuk merambah kemana-mana dan gampang
dimanfaatkan oleh fihak-fihak yang berkepentingan. Kisah-kisah tentang intrik politik dengan memanfaatkan intelijen, kisah-kisah tentang bagaimana seorang kepala negara harus “menjinakkan” intelijen agar selalu berfihak pada kepentingannya, kisah-kisah “deception” dsb adalah kisah-kisah intelijen yang menarik untuk dibaca).

Dalam “Kerajaan Pertapa” Ken Conboy bercerita tentang intelijen Indonesia yang tak putus-putusnya menguping dan mengintip gerak-gerik para diplomat Kore Utara. (Sebagaimana diketahui, pada masa Orde Baru isyu tentang komunis adalah sesuatu yang harus selalu
diwaspadai). Acapkali, setelah capek memasang alat penyadap dan menguping, maka yang didengar seorang agen di ujung sana hanyalah suara dua makhluk berlainan jenis yang sedang berkencan; bukan pembicaraan politik atau perencanaan teror.

Dalam “Sasaran Sulit” Ken Conboy bercerita tentang bagaimana intelijen Uni Soviet merekrut beberapa perwira TNI untuk mensuplai informasi. (Dan kita tentu masih ingat skandal seorang kolonel Angkatan Laut yang tertangkap karena mensuplai peta-peta kelautan kita terhadap intelijen Uni Soviet).

Dalam “Faruq” Ken Conboy bercerita tentang Umar Faruq dan jaringan teror al-Qaeda di Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui pada tahun 2002 Umar Faruq tertangkap oleh BIN dan dikirim ke sebuah pangkalan AS di Afghanistan untuk ditahan. Memang dalam uraiannya Ken Conboy tidak sempat mengulas bagaimana Al Faruq di kemudian hari bisa lolos dari tahanan. (Kalau saja ada sedikit simpul fakta tambahan, maka Ken Conboy pasti bisa menyajikan kisah lain yang menarik, yaitu tentang “siapa memanfaatkan siapa”, “siapa mengumpan siapa” sebagaimana layaknya yang banyak terjadi di dunia intelijen).

Ken Conboy mendasarkan tulisan-tulisannya atas pemberitaan di media masa, atas wawancara dengan beberapa mantan aparat intelijen atau dengan mempelajari berkas-berkas di dinas intelijen yang karena perjalanan waktu sudah boleh diungkap kepada umum. Tapi, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, kita sebenarnya tak perlu terlalu perduli dengan
sumber-sumber si pengarang. Ini adalah kisah intelijen, yang sampai “kucing bertanduk” pun sukar untuk diverifikasi. Seyogianyalah kita sadar bahwa buku yang kita baca ini bukanlah sebuah buku sejarah. Ini adalah sebuah buku fiksi, atau buku tentang sebuah fakta atau peristiwa tapi yang sarat dengan fiksi.

Sementara membaca buku ini pasti akan ada dari kita yang teringat dengan kasus kematian aktivis demokrasi Munir. Sebagaimana kita ketahui, dari hasil penyelidikan kepolisian yang diberitakan oleh media masa, sebelum kematian Munir pesawat telepon selulernya beberapa kali menerima panggilan yang–setelah dilacak–ternyata adalah nomor salah
satu saluran telepon di kantor BIN (Badan Intelijen Negara) di bilangan Pasar Minggu. Kalaulah saja ada beberapa tambahan “simpul” fakta yang lain, Ken Conboy pasti bisa menyajikan kisah intelijen yang menarik di seputar kasus kematian Munir. (Munir meninggal dengan dugaan bahwa ada seseorang yang meracuni minumannya. Dan di beberapa kisah dalam buku ini kita mengetahui bahwa ternyata praktek menaruh sesuatu di dalam minuman atau makanan korban, agar si korban terberak-berak, menghabiskan waktu di WC, dan karena itu kamarnya bisa digeledah atau tasnya dicuri, merupakan praktek yang sudah biasa dilakukan oleh agen-agen Bakin atau BIN).

Dalam buku memoar Yoga Sugama kita dapat membaca keluhannya tentang bagaimana seorang intelijen Indonesia “digarap” oleh intelijen lain yang juga orang Indonesia. Dalam perjalanan untuk memberi briefing dalam sebuah rapat para dutabesar kita di sebuah tempat di Eropa, si intelijen ini mampir semalam di Bangkok. Ketika bermalam di hotelnya di
Bangkok, si intelijen kepincut dan menghabiskan malamnya dengan seorang perempuan. Sial baginya, ketika ia bangun pagi, tasnya yang berisi bahan-bahan briefing telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya si perempuan. Peristiwa itu sampai ke telinga Pak Harto,
dan Yoga Sugama mendapat teguran keras. Kalau Ken Conboy bisa mengambil beberapa “simpul” fakta tambahan, maka kisah ini pasti akan menarik sekali untuk dibaca.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah intelijen Indonesia yang menarik untuk diuraikan dalam bentuk cerita. Tapi apa yang telah dilakukan oleh Ken Conboy dalam bukunya yang berjudul “Intel” ini sudah merupakan sebuah lompatan besar. Buku ini tak kalah menarik dengan buku-buku penulis asing yang membahas CIA, KGB, atau Mossad.

Ken Conboy telah membuktikan dirinya sebagai “pengamat intelijen” yang sebenarnya. Ia tidak sekedar “bercuap-cuap” di televisi tentang sebuah teori konspirasi yang sumir. Ken Conboy telah menulis kisah-kisah yang rinci, runut dan masuk akal. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar