Senin, 10 September 2012

Jendela Baru Dunia Intelijen - Perlunya Pendekatan Ilmiah Dalam Memprediksi Ancaman Nasional

Intelijen bukanlah sosok yang menyeramkan dan misterius. Sesuai dengan makna dasarnya (intelligent) adalah, kecerdasan. Jadi, seseorang intelijen seharusnya adalah sosok yang cerdas dalam menjalankan tugasnya. Kecerdasan ini sangat diperlukan karena bidang tugas intelijen akan lebih banyak bertumpu pada analisis beragam informasi untuk memperoleh prediksi yang cepat dan akurat.
Prediksi yang akurat ini selanjutnya akan menjadi input penting pengambilan kebijakan atau pun dukungan kebijakan.
Untuk memperoleh analisis yang akurat maka seorang intelijen pada dasarnya dituntut bekerja sesuai dengan norma-norma ilmiah. Prinsip ini sudah berlaku manakala seorang intelijen mulai melakukan pengumpulan data-data mentah, prosesing data mulai dari pengklasifikasian hingga penyaringan data yang reliable, hingga menciptakan produk intelijen berupa analisis yang komprehensif yang dapat memprediksikan suatu perkembangan secara tepat.
Kalau melihat pola kerja seorang intelijen maka pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara pola kerja seorang akademisi atau intelektual dengan pola kerja seorang intelijen. Keduanya harus bekerja mematuhi norma-norma ilmiah dalam melakukan pengumpulan, verifikasi dan analisis data serta dalam membuat suatu prediksi. Bedanya, terletak pada unsur kecepatan. Di samping itu produk akhir akademisi umumnya langsung didiskusikan secara terbuka, sedangkan produk akhir seorang intelijen hanya dikonsumsi oleh kalangan sangat terbatas yaitu pemerintah sebagai single user produk intelijen.
Karena kesamaan-kesamaan inilah maka dunia intelijen dan dunia akademik pada dasarnya saling berhutang. Dunia intelijen sangat banyak berhutang ilmu pada dunia akademik, terutama dalam membangun metode verifikasi data dan analisis data yang akurat yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak hanya itu, temuan-temuan ilmu pengetahuan dalam dunia akademik, harus diakui, selama ini diserap sangat banyak oleh dunia intelijen untuk menunjang ketajaman analisis intelijen. Contoh mudahnya adalah analisis dalam bidang sosial politik. Diskripsi cemerlang yang dihasilkan ilmuwan sosial politik bagaimana pun adalah input yang sangat berharga bagi dunia intelijen dalam melakukan analisis kecenderungan dan prediksi perkembangan. Ahli-ahli psikologi yang sangat piawai dalam mendiskripsikan motif kecenderungan personal, juga memberikan kontribusi yang luar biasa manakala dunia intelijen membutuhkan analisis kecenderungan personal seseorang. Dan kiranya, masih banyak lagi sumbangsih kalangan kampus bagi kemajuan metode kerja intelijen.
Sumbangan besar ilmu pengetahuan itu, selanjutnya dibalas kembali oleh dunia intelijen dengan memberikan kontribusi temuan-temuan dan pendekatannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan metode Linier Programming dalam bidang ilmu matematika pada tahun 1940-an, bagaimana pun awalnya justru dalam kerangka kepentingan operasi perang. Pendekatan ini sekarang sudah sangat luas diaplikasikan dalam beragam sektor kehidupan. Thomas Saaty, penemu metode Analytical Hirarchy Process (AHP) dalam ilmu pengambilan keputusan, embrio teorinya justru didapatkan tatkala Saaty bekerja di lingkungan riset intelijen di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Metode temuannya sangat luas di dunia sipil dan sudah diaplikasikan dalam berbagai sektor kehidupan. Contoh lain yang mencolok adalah Internet yang sekarang sudah jamak digunakan oleh banyak kalangan untuk komunikasi. Cikal bakal komunikasi data melalui internet ini, bagaimana pun berhutang ilmu dari kalangan intelijen Amenika Serikat manakala mereka berusaha mengembangkan sistem aliran data yang cepat dan akurat. Metode kerja dunia intelijen kini juga sudah banyak diadopsi oleh ilmu manajemen, yang kemudian dikembangkan secara mandiri menjadi ilmu intelijen bisnis.
Contoh-contoh ini menggambarkan bahwa pekerjaan dunia intelijen pada akhirnya tidak hanya bermanfaat secara langsung bagi user-nya yaitu pemerintah, melainkan telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi dunia ilmu pengetahuan secara umum.
Memperhatikan beberapa evidence tersebut maka pengembangan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang hendak dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, pada dasarnya harus disambut dengan gembira. Tidak hanya lembaga ini merupakan satu di antara sedikit lembaga sejenis yang ada di dunia, melainkan demi kepentingan yang jauh lebih besar dan strategis yaitu pertama, pengembangan keilmuan yang nantinya akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar, baik bagi dunia intelijen maupun bagi publik secara lebih luas. Dan kedua, pendekatan saintifik yang akan dikembangkan oleh kader-kader baru intelijen akan berguna dalam mengantisipasi ancaman gangguan keamanan masa sekarang dan masa depan yang semakin kompleks dan rumit.
Sebagaimana halnya dunia pendidikan, maka pengembangan sekolah intelijen di Indonesia, pada dasarnya tidak ada ruginya. Pengembangan keilmuan di STIN akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar yang mungkin tidak terprediksikan sekarang, khususnya dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan secara umum.
Pada awalnya, kepentingan keilmuan dalam dunia intelijen mungkin bersifat lebih praktis, yaitu dalam kerangka mempertajam analisis dalam produk-produk intelijen. Atas dasar alasan ini maka penggunaan metode ilmiah dalam analisis intelijen mungkin lebib luwes dan tidak terpaku pada bentuk scientific inquiry yang ketat. Namun, semakin produk analisis didalami, tantangannya pasti semakin besar dan membutuhkan eksperimentasi keilmuan yang lebih canggih.
Misalnya untuk melakukan analisisa intelijen di bidang ekonomi. Seorang analisis tentu harus paham ekonometrik, ekonomi makro dan mikro, serta teori-teori ekonomi sejak masa Adam Smith hingga yang kontemporer seperti penggunaan game theory dalam menjelaskan konffik dan kerjasama di bidang ekonomi. Demikian juga dengan analisa intelijen di bidang politik, juga diperlukan dasar pemahaman tentang teori-teori politik dari jaman Aristoles hingga sekarang.
Pendekatan keilmuan dalam dunia intelijen itu, selama ini memang telah berkembang dengan menggabungkan berbagai pendekatan keilmuan, ditambah dengan pemikiran praktis intelijen. Pendekatan ini rupanya bermanfaat dalam memprediksikan berbagai perkembangan atau dalam memecahkan masalah-masalah rumit. Pendekatan itu, kalau dalam dunia akademik, sering disebut pendekatan interdisipliner. Pendekatan interdisipliner sebenarnya sudah sangat lazim dalam analisis intelijen. Meskipun baru belakangan ini dikembangkan secara besar-besaran oleh para akademisi.
Keberanian akademisi untuk melakukan eksperimentasi keilmuan dengan menggunakan data-data intelijen yang bersifat kualitatif, setidaknya telah menghasilkan beberapa temuan cemerlang. Pendekatan AHP (Analytical Hirarchy Process) sebagaimana dikembangkan Thomas Saaty di University of Pittsburgh pada dekade 80-an adalah sedikit contoh bagaimana persoalan kualitatif dapat ditransformasikan dan dipecahkan secara kuantitatif. Dan itu eksperimentasi awalnya adalah pengalaman waktu muda Thomas Saaty ketika mendapat kesempatan bekerja internship dalam dunia intelijen.
Oleh karena itu, pendekatan-pendekatan yang khas dari dunia intelijen ini semestinya terus menerus didialogkan dengan kalangan kampus. Diakui, eksperimentasi yang dilakukan dunia intelijen masih banyak kelemahannya dari sudut ilmu pengetahuan. Untuk itulah, proses dialog dibutuhkan. Dialog ini sangat dimungkinkan karena kedua entitas pada dasarnya bekerja dengan metodologi ilmiah. Kalangan kampus semestinya tidak perlu segan mengkomunikasikan berbagai temuannya dengan kalangan intelijen. Begitu juga sebaliknya, intelijen tidak perlu malu-malu untuk mendialogkan temuan metasifiknya dengan kalangan kampus. Dengan adanya dialog ini, maka dua hal yang selama ini seakan terpisah jauh, yang terkadang saling curiga padahal saling mencuri ilmu, dapat terus ditemukan titik kesamaan dengan kemajuan bersama.
Kalau konfergensi keilmuan itu terus berlangsung, khususnya di sekolah intelijen (STIN) maka adalah sangat wajar apabila timbul suatu angan-angan bahwa suatu saat nanti akan lahir school of thought of intellijence ala Indonesia yang mampu menghasilkan analisis intelijen yang cepat, tepat dan akurat.
Temuan-temuan ini tentu saja tetap dalam kerangka menghormati perbedaan kepentingan di antara dua dunia sebut. Tidak terbersit maksud untuk menjadikan para akademisi menjadi intel atau sebaliknya, mendidik intelijen menjadi profesor. Yang harus lebih penting adalah bagaimana kedua belah pihak mengambil benefit dari keberadaannya masing-masing secara jujur dan bertanggungjawab. Karena, kedua entitas ini pada dasarnya ibarat dua bunga yang berbeda yang tumbuh berkembang dari tanah yang sama: Indonesia.
Kehadiran STIN pada dasarnya mempunyai alasan praktis dan strategis yang kuat. Secara praktis, kehadiran sekolah ini didorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak untuk mencetak tenaga intelijen yang trampil, profesional dan mempunyai komitmen tinggi. Kualifikasi tenaga seperti ini, tentunya tidak mungkin dihasilkan lewat pendidikan intelijen yang singkat. Melainkan harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan yang sistematis, terencana dan terprogram secara baik serta mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama. Dan kehadiran STIN dimaksudkan untuk menyiapkan kader-kader baru tenaga intelijen yang terampil profesional dan berkomitmen tersebut.
Kehadiran sekolah ini mungkin agak terlambat kalau dibandingkan dengan obsesi yang sudah sangat lama akan terbentuknya sebuah sekolah intelijen di Indonesia. Dapat dibandingkan dengan instansi pemerintah yang lain yang sudah lama membuka sekolah di bidang profesinya. Padahal, intelijen adalah juga sebuah profesi khusus yang tidak semua orang menekuninya. Kendati agak terlambat. Alhamdulillah obsesi lama itu sekarang sudah mulai terwujud dan kini mulai menelorkan lulusannya.
Ini berarti BIN mulai sekarang akan mendapatkan pasokan tenaga intelijen yang sudah terdidik secara profesional sejak awal. Bekal ini sangat penting karena tantangan tugas yang akan dihadapi sudah sangat kompleks yang tidak mungkin ditangani oleh tenaga intelijen konvensional.
Ancaman stabilitas nasional sekarang tidaklah sederhana. Ancaman itu tidak lagi dalam bentuk tradisional, seperti invasi negara lain. Melainkan lebih banyak diwarnai ancaman nontradisional yang juga dilakukan oleh aktor-aktor non-negara. Pola yang dimainkan sudah merupakan gabungan dari beragam unsur dan tidak mengenal batas geografis.
Sumber ancamannya sudah tidak bisa dibedakan antara dalam dan luar negeri. Bentuk ancamannya sudah menggunakan berbagai macam media, mulai dari yang paling canggih hingga yang paling sederhana. Dampak masalahnya juga sangat kompleks karena menyangkut masalah politik, ekonomi dan sosial keagamaan.
Dengan demikian, potensi ancaman dan gangguan keamanan harus didefinisikan ulang. Ancaman invasi militer dari negara lain, mungkin sudah relatif berkurang. Namun, ancaman dalam bidang ideologi tampaknya masih menjadi agenda besar meskipun era perang dingin sudah berlalu. Terbongkarnya jaringan terorisme telah memperlihatkan bahwa ancaman ideologi itu masih ada hingga sekarang. Mereka dapat bergerak leluasa memanfaatkan kebebasan politik dan informasi, teknologi informasi dan memanfaatkan kondisi sosial ekonomi dan keagamaan masyarakat yang sedang labil.
Kalau ideologi radikal keagamaan saja sudah mampu mcnggegerkan dunia, maka tidak tertutup kemungkinan ideologi-ideologi sekuler, baik kanan maupun kiri, juga akan beroperasi dengan beragam modus operandi untuk meminimalisasikan nilai-nilai Pancasila.
Dalam mengantisipasi potensi ancaman dan gangguan, intelijen juga sudah tidak bisa bekerja dengan paradigma lama main tangkap atau memenjarakan seseorang tanpa proses peradilan alias bekerja dengan ekstra yudisial. Cara seperti ini, sudah sepakat untuk ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip negara hukum dan HAM.
Pada dasarnya, intelijen harus bekerja dalam koridor hukum dan tidak boleh melampaui kewenanganya sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan.
Sesuai dengan semangat reformasi, maka dalam menjalankan fungsinya, intelijen harus menghargai hak-hak warga negara, kebebasan sipil dan demokratisasi. Penghormatan terhadap prinsip-prinsip ini, tidak boleh menjadi alasan kemandulan inte]ijen. Para aparat intelijen dapat terus mengembangkan kemampuannya dalam mendeteksi segala macam ancaman dengan tetap menghormati hak-hak warga negara, kebebasan sipil dan demokratisasi.
Itu semua bisa dilakukan apabila intelijen bekerja dengan paradigma baru, mengedepankan pendekatan ilmiah, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sangat diharapkan, para lulusan STIN sebagai kader-kader muda intelijen Indonesia dapat bekerja dengan ritme tersebut. 
Sumber: As’ad Said Ali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar