Selasa, 09 April 2013

Gara-Gara Nonton Wayang Bung Karno Jadi Presiden

Sukarno
Di luar takdir Tuhan, penyebab menjadi presiden bermacam-macam tergantung doa, usaha dan ihtiarnya. Merintis melalui pendidikan tinggi, mengantarkan Sukarno dan BJ Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia. Merintis melalui karir ketentaraan telah mengantarkan Soeharto dan SBY menjadi presiden, merintis melalui organisasi masyarakat dan politik mengantarkan Gus Dur dan Megawati ke puncak panggung kekuasaan negeri.
Karena jabatan presiden terbatas, maka terbatas pula yang bisa menjabat. Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, baru enam orang pilihan di atas yang beruntung menjadi presiden. Selalu saja ada hal-hal menarik tentang para (mantan) presiden itu yang perlu kita ketahui dan menjadi pelajaran hidup. Boleh jadi masing-masing mempunyai sumber motivasi sendiri, namun salah satunya adalah seperti judul di atas.
Membaca naskah amanat Presiden Sukarno pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tanggal 2 Mei 1964, yang berjudul: “Bertjita-tjitalah Setinggi Bintang Dilangit”, membuat saya mengetahui latar belakang yang memotivasi Sukarno menjadi orang besar.
Dalam pidato itu, di hadapan para pemuda dan pemudi, Bung Karno menekankan agar menjadi manusia yang bercita-cita setinggi bintang di langit. Ia teringat nasihat ibunya, “Sukarno, ketahuilah, engkau itu anak fajar, putera fajar, sebab engkau dilahirkan pada waktu fajar menyingsing, fajar 6 Juni sedang merantak-rantak di sebelah timur. Lihat itu fajar. Makin lama makin terang. Engkau nanti akan melihat matahari terbit, jadilah manusia yang berarti, jadilah manusia yang bermanfaat, manusia yang pantas untuk menyambut matahari. Manusia yang pantas untuk menyambut terbitnya matahari!”
Menurut Bung Karno (melanjutkan pidatonya), tidak pantas kalau terbitnya matahari disambut oleh seorang bajingan atau manusia koruptor yang mencuri harta rakyat.
Orangtua Sukarno memberi pendidikan dan menanamkan cita-cita dalam dadanya. Manusia tidak bisa menjadi manusia yang bermanfaat kalau tidak dari mulanya bercita-cita baik. Salah satu cara bapaknya membangunkan cita-cita Sukarno kecil adalah dengan mengajak nonton pertunjukan wayang kulit.
Dalam pertunjukan wayang ada adegan-adegan (biasanya bagian pembukaan — ‘janturan’) Sang Dalang menggambarkan suatu keadaan negeri yang ideal, yaitu: besar, adil dan makmur, murah sandang, papan dan emas, terkenal/disebut di seluruh dunia, berwibawa, perdagangan tidak ada hentinya siang dan malam, aman di perjalanan, ternak-ternak kembali sendiri dari tempat ladang penggembalaan, warga negaranya tidak saling dengki dan jegal, dll. Itulah cita-cita negara ideal yang tertanam sejak kecil di dada Sukarno, sebagai cita-cita politik dan sosial.
Isi pidato Bung Karno masih relevan sampai sekarang. Motivator sekaliber Robert T Kiyosaki pun menganggap cita-cita atau ‘impian’ (menurut bahasanya) adalah sangat penting. Agar maju dan sukses seseorang harus punya impian. Toh tidak dipungut biaya untuk bermimpi. Menurutnya, ada 5 macam pemimpi dan impiannya: [1]
  1. Pemimpi yang bermimpi di masa lalu, yakni yang pencapaian terbesarnya dalam hidup terjadi di belakang mereka. Pada saat kita bicara ke depan, pemimpi ini selalu mengungkit-ungkit keberhasilannya di masa lalu yang tidak ada relevansinya. Sering kita dengar, “Dulu ketika saya yang memimpinnya . . . .” Seorang yang bermimpi tentang masa lampau adalah orang yang hidupnya sudah berakhir, orang itu perlu menciptakan impian di masa depan, supaya kembali hidup.
  2. Pemimpi yang hanya memimpikan impian kecil. Jenis pemimpi ini akan memimpikan impian-impian kecil saja, karena mereka ingin merasa yakin bahwa mereka dapat mencapainya. Masalahnya adalah meskipun mereka tahu dapat mencapainya, tetapi tidak pernah mau mencapainya. Jenis pemimpi ini lebih umum dan seringkali adalah yang paling berbahaya, mereka hidup seperti kura-kura, makan dan minum dalam ruangan yang tenang, kalau diketuk cangkangnya dan menyentuh lubangnya mereka sering menyerang dan menggigit. Pelajaran yang diperoleh adalah, biarkan kura-kura pemimpi ini bermimpi, kebanyakan tidak pergi kemana-mana.
  3. Pemimpi yang telah mencapai impian mereka dan belum menentukan impian besar, yakni seseorang yang telah mencapai impiannya (misal: menjadi dokter, pilot, dll) dan terus hidup dalam impian itu. Kebosanan biasanya tanda bahwa sudah waktunya menentukan impian baru dan petualangan baru.
  4. Pemimpi yang mempunyai impian besar, tetapi tidak punya rencana bagaimana mencapainya, akhirnya tidak mencapai apa-apa. Pemimpi ini sering berusaha mencapai impiannya sendirian, berusaha mencapai banyak tetapi kemudian berusaha melakukan sendiri. Sangat sedikit orang mencapai impian mereka sendirian. Orang ini harus tetap mempunyai impian besar, menentukan rencana dan mendapatkan tim yang akan membantu membuat impiannya menjadi kenyataan.
  5. Pemimpi yang mempunyai impian besar, mencapai impian itu dan terus mempunyai impian yang lebih besar.
Impian yang ke-5 tentunya yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Beruntung Sukarno dan orang-orang yang diperkenalkan dengan pertunjukan wayang sejak kecil. Namun demikian, meski sudah mengenal wayang, untuk memaknainya, ternyata bisa berbeda orang per orang. Itulah sebabnya saya yakin meski seseorang mengenal wayang, belum tentu mempunyai cita-cita, apalagi cita-cita tinggi (termasuk penulisnya, hehehe…).
Saya berterima kasih kepada Bung Karno (selain sebagai proklamator dan pahlawan bangsa) atas nasihat dalam pidatonya itu yang menunjukkan bahwa wayang tidak sekedar hiburan, tetapi bisa menjadi sarana edukasi dan memberi motivasi untuk maju. Tentunya menjadi pelajaran juga kepada produsen film atau hiburan lainnya agar bisa membuat film atau pertunjukan hiburan yang bisa menumbuhkan cita-cita yang tinggi terutama kepada para generasi muda, bukan sekedar hiburan murahan apalagi merusak fisik dan mental. Melihat dampaknya, sepertinya tak ada alasan (pertunjukan) wayang akan punah atau dipunahkan. (Depok, 12 Agustus 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar